20 Mei, 2013

Resensi Buku Demokrasi Kapitalisme


POJOK RESENSI BUKU 

Oleh: Ihsan Ahmad Barokah



Judul Buku : Demokrasi dan Kapitalisme: Perspektif Asia dan       
                       Amerika

Penerbit     :  Cetakan Pertama, Center For Information and 
                       Development Studies (CIDES), Jakarta, 1994.

Penulis       :  Robert Bartley, Chan Heng Chee, Samuel P. Huntington,
                       Shijuro  Ogata.

Halaman    :  VIII +80 hlm         ISBN  :  979-638-000-5




Buku ini menampilkan empat esai utama yang disampaikan dalam konferensi dengan tema : “Asian and American Perspektive on Capitalism and Democracy” pada tanggal 28 hingga 30 Januari 1993 di Singapura. Sebagian tokoh berpendapat bahwa perdebatan terkait hal tersebut akan berguna bagi perkembangan Negara-negara Asia di kemudian hari.

Menurut Chan Heng Chee dalam esainya yang berjudul Model demokrasi Asia: Evolusi dan Implementasinya menyatakan bahwa: “Pada abad ke 20 ini demokrasi merupakan mitos yang melegitimasikan (the legitimating myth). Seorang mahasiswa baru dalam ilmu politik tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui, bahwa terdapat sederajat panjang klaim-klaim demokrasi yang membingungkan. Diantara klaim-klaim itu ada “demokrasi konstitusional, demokrasi liberal, demokrasi populis, sentralisme demokratis, demokrasi rakyat, demokrasi terpimpin dan banyak lagi lainnya”. Sekalli dinyatakan bahwa manusia itu dinyatakan dalam kedudukan yg sama, maka adalah usaha yg sia-sia untuk memballikkan keprcayaan itu. Kepercayaan itupun kemudian berkembang kedalam “kedaulatan rakyat” dan “kehendak rakyat. Sebuah rezim yg buruk kinerjanya akan mengal;ami proses delegitimatsi, dan itu menyebabkan penggantioannya oleh bentuk bentuk pemerintahan yg lain. Ini telahh terjadi tidak saja di Negara Negara sedang berkembang, melainkan juga di Negara Negara demokratis yg tingkat industrialisasinya sudah mapan.

Bagi banyak kalangan yg dewasa ini terlibat dalam perdebatan tentang demokrasi, bermanfaat untuk diingatkkan oleh Huntington bahwa formula Schunmpeterian tentang demokrasi sebagai suatu aransement prossedural, suatu “aransement institusional” untuk sampai kepada keputusan keputusan politik dimana individu individu mendapatkan kekuasaan untuk menentukan dengan cara kompetisi untuk mendapatkan suara terbanyak rakyat,” merupakan definisi demokrasi yg mendapat consensus terliuas dewasa ini. Demkrasi adalah pemilihhan pemimpin pemimpin lewat pemilihan umum yang koompetitif. Atau, dengan kata lain, sistem demokrasi adalah sistem yang mempraktekan pemilihan umum yang bebas dan adil (fair). Demokratisasi menyebar ke Asia pada pertengahan abad ke-20, bersamaan dengan dekolonisasi. Demokrasi bukanlah sekedar suatu pusaka dalam pelajaran politik, melainkan argument paling efektif yang digunakan kalangan nasionalis untuk menentang penguasa penguasa colonial. Hamper seluruh Negara yang memperoleh demookratisasi dengan ditandaskannya proklamasi kemerdekaan disertaii oleh keteguhan niat untuk menerap[kan kearifan universal itu, tetapi itu tanpa didahului oleh pengalaman demokratisasi secara histooris. India dan Pakistan memperkenalkan institusi institusi politik demokratis pada 19947 sebagai dua Negara yang saling meisahkan diri pada masa kemerdakaan.indonesia pada 1949; Jepang pada 1952, ketika Negara itu mencapai kedaulatan penuh setelah pendudukan Amerika berakhir; Burma pada 1948; Malaysia pada 1957; Singapura menikmati pemerintahan hasil pemilihan umum pada 1959 sebagi suatu Negara pulau yang semi otonom tetapi independent, dan demokrasi parlementer diterapkan setelah terjadi pemisahan Negara itu pada 1965.

Dari hasil penelitiannya dapat disimpulkan bahwa: “Negara Negara yang kuat dari demokrasi demokrasi Asia adalah juga Negara Negara interfensionis dengan sector Negara yang luas. Negara memainkan sebuah peran penting sebagai mesin pembangunan ekomi dalam Negara. Inilah kenyataan yang di temukan di setiap Negara ASEAN, korea, Taiwan dan juga india. Perlu ditegaskan disini, nahwa demokrasi di Asia dapat dianggap sebagai farina demokrasi yang berbeda secara nyata terdapat tingkat keterbukaan dan kompetisi berbeda, dan beberapa diantaranya lebih ddemokratis dibandingkan yang lain; akan tetapi secara keseluruhan ia berbeda dari demokrasi liberal barat dalam tingkat yang cukup besar bagi kita untuk menyatakan bahwa ia adalah jenis demokrasi yang lain. Diskusi diskusi tentang demokrasi ini memunculkan sebuah pertanyaan penting: “apakah demokrasi dianggap sebagai suatu proses, alat untuk mencapai tujuan akhir itu sendiri? Jika demokrasi dilihat sebagai tujuan akhir, maka ia akan membatasi dimana tujuan akhirnya adalah masyarakat yang baik yang mencakup juga pemerintahan yang baik. Jika masyarakat yang baik adalah tujuan akhir, maka demokrasi tidak lebih dari sebuah nilai kebaikan dalam keranjang yang harus dipertimbangkan. Percobaannya dalam masyarakat harus mencakup seluruh keranjang kebaikan itu.

Sementara menurut Samuel P. Huntington dalam tulisannya yang berjudul “Demokrasi Amerika dalam kaitannya dengan Asia” menyatakan bahwa untuk membandingkan jenis jenis demokrasi Amerika, Asia, atau lainnya, penting bagi kita untuk pertama tama mendefinisikan genus (demokrasi secara umum) yang jenis-jenis demokrasi di atas adalah spesies-spesiesnya. Apakah esensi semua regim demokratis yang membedakannya dari regim-regim dengan sistem-sistem politik yang demokratis? Pada intiinya demokrasi adalah cara-cara untuk menetapkan otoritas dimana rakyat memilih pemimpin-pemimpin mereka. Dlam jenis-jenis sistem politik lainnya, orang-orang tertentu dapat menjadi penguasa-penguasa karena factor keturunan, penunjukan, nasib, ujian, atau paksaan dengan kekerasan. Sebuah Negara-bangsa modern mempunyai suatu sistim politik yang demokratis hingga tingkat dimana pembuat-pembuat kebijakannya yang paling berpengaruh ditentukan lewat pemilihan umum yang adil, jujur, dan diadakan secara berkala, dimana para kandidat secara bebas bersaing untuk memperoleh suara terbanyak dan dimana praktis semua penduduk yang telah memenuhi syarat dapat menyatakan pilihannya.

Demokrasi Amerika dibentuk oleh warisan Inggris, ruang kosong dan tanah yang bebas, tidak adanya aristokrasi, imigrasi yang massiv, mobilitas sosial baik vertical maupun horizontal, pemrintahan yang minimum dan etos liberal kelas menengah yang telah meresap dalam. Kombinasi berbagai factor yang persis sejenis ini tidak ditemukan di Asia. Jika institusi-institusi demokratis menemukan akalnya di Asia, maka itu akan dihasilkan dari kekuatan-kekuatan yang berbeda; dan demokrasi disana akan mengambil bentuk-bentuk yuang berbeda dibandingkan dengan demokrasi yang berlangsung di Amerika. Masa depan demokrasi di Asia akan ditentukan oleh interaksi antar ekonomi dan kebudayaan. Sepanjang tiga ratus tahun, di setiap benua, pertumbuhan ekonomi menjadi kekuatan penting yang menciptakan kondisi-kondisi yang cocok dan mendukung tampilnya rezim-rezim demokratis. Di Negara-negara Asia, pertumbuhan ekonomi yang mengendur dapat menjadi kekuatan yang mendorong terjadinnya transisi-transisi dari demokrasi partai dominan bergaya Asia ke domokrasi yang berdasarkan persaingan partai bergaya barat.

Secara sederhana dapat saya simpulkan bahwa bisa jadi konferensi yang menghasilkan buku ini menjadi salah satu pendorong terciptanya semangat demokratisasi di Indonesia yang kemudian pada tahun 1998 berubah bentuk menjadi sebuah gerakan massa yang menghasilkan “Reformasi”. Tentu hal ini menjadi sebuah lembaran baru perjalanan bangsa Indonesia kea rah yang lebih baik. Masa transisi demokrasi yang begitu panjang tentu harus kita kawal bersama-sama. Seluruh elemen masyarakat dan sistem politik akan menjadi juru kunci atas keberhasilan demokratisasi di Indonesia yang sejatinya menghasilkan pemerintahan dan masyarakat yang lebih baik (civil society). Semoga resensi buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua. (***iab)

Tambahan: Khusus bagi Mahasiswa Universitas Jendral Achmad Yani, Buku ini dapat dipinjam melalui sms ke 0857 1733 7650

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Comment Disini...