31 Desember, 2012

Mengingat masa lalu, sambut tahun baru 2013

Malam tadi, saya coba malakukan instrospeksi diri secara lebih mendalam. Saya membuka lembar demi lembar ingatan sejak menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tahun 2006. Begitu banyak haru biru pengalaman dan perjuangan terutama dalam berorganisasi. Berorganisasi sebuah tahap wajib yang menghasilkan pendewasaan serta pematangan dalam cara berfikir. Konflik dalam organisasi akan senantiasa membuat kita semakin bijaksana dan bermental baja. 

BEM KM UGM merupakan organisasi pertama yang saya ikuti. Pada waktu itu Presiden mahasiswa nya adalah Agung Budiono. Saya memilih bergabung di Departemen Aksi dan Propaganda. Mengapa? Karena menurutku namanya keren dan garang. Alasan masuk awalnya sih iseng-iseng aja sekaligus nambah teman dan pengalaman -tidak lebih-. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa Universitas Gadjah Mada ini adalah salah satu kantung rahim terlahirnya para pemimpin Indonesia saat ini dan juga masa mendatang. Setelah itu aku menyadari hidup disekeliling orang-orang hebat (baca:calon pemimpin masa depan).

Pada fase awal, disaat ada sebuah diskusi baik itu internal departemen ataupun internal bem km, saya hanya menjadi pendengar sejati saja. Bingung, masih belum mengerti tentang apa yang didiskusikan (secara pengetahuan). Maklum, mahasiswa baru. Setengah tahun berjalan, akhirnya aku mulai beradaptasi dengan lingkungan yang hebat itu. BEM KM UGM yang menurut saya dihuni oleh orang-orang yang mempunyai mimpi-mimpi besar dan bercita-cita luhur melakukan perubahan bangsa di kemudian hari. Lambat laun akhirnya aku mulai dapat menyesuaikan diri, banyak tanya sana sini tentang peranan mahasiswa dan lain sebagainya. Pak agung budiono, mas unggul sudrajat, mas firman, mas agung baskoro, mas azis umrani, mas imam, mas danang kurniadi, serta mas rusnan bajang, mereka adalah orang-orang yang menginspirasi saya agar menjadi manusia yang lebih baik.

Sungguh saya termasuk orang yang beruntung dapat diberikan kesempatan berada di tengah orang-orang hebat (Mahasiswa UGM). Aksi demi aksi saya lalui dengan penuh semangat. Dari mulai aksi keliling kampus ugm pakai kemben, aksi hari pendidikan, aksi hari aids, aksi hari pahlawan, aksi hari bumi, aksi hari buruh, aksi matinya demokrasi di ugm, aksi solidaritas, dan masih banyak aksi-aksi lainnya. Di tahun pertama, saya mengikuti hampir 50 kali aksi. Kalau tidak di bunderan UGM ya di jalan abu bakar ali longmarch menuju malioboro. Tapi perlu dicatat bahwa aksi BEM KM UGM tidak pernah anarkis misalnya dengan bakar-bakar ban. Mayoritas aksi yang ditawarkan adalah aksi simpatik misalnya melalui happening art dan teatrikal saja.

Meskipun terkadang melelahkan, akan tetapi saya merasa adanya pertumbuhan rasa kepedulian saya terhadap keadaan bangsa ini. Saya merasa lebih memiliki bangsa ini, sehingga disaat ada yang tidak beres, saya tergerak untuk mengabarkannya kepada khalayak banyak/masyarakat. Memang di awal-awal saya terjangkit virus sindrom selebritis. Disaat masuk tv atau media cetak lainnya, itu sebuah kebanggaan. namu seiring berjalannya waktu saya mulai cerdas memaknai perjuangan. Saya masih ingat kata-kata mas unang siopeking yang pada waktu itu menjadi ketua forum lsm diy. Menurut beliau bahwa perjuangan kita ini bukanlah waktu yang sebentar. Perjuangan turun ke jalan tidak langsung instant mendapatkan apa yang diharapkan. Namun seperti tetesan air yang menempa sebuah batu besar yang lambat laun menimbulkan bekas.

Saya masih ingat betul pada tahun 2007 kita memperjuangkan pendidikan gratis. Waktu itu kota Sukoharjo sudah memulainya sampai tingkat sma. Sementara kabupaten sleman berkat dorongan dari gerakan mahasiswa dan lsm di jogja menggratiskan sampai tingkat smp. Ternyata, pada tahun 2009 Pemerintah Pusat pun mengeluarkan kebijakan tersebut. Intinya adalah, tak ada perjuangan yang sia-sia. Dengan kata lain perjuangan adalah sebuah bentuk kepedulian kita terhadap keadaan, terhadap nasib yang lainnya. Tentu hal ini kan memberikan efek yang positif bagi perkembangan pemikiran kita. Dengan berorganisasi, banyak informasi penting yang kita dapatkan. Bukan hanya itu juga, sekaligus dengan pendiskusian yang ilmiah pula terkait issu tersebut. Setelah satu tahun berjalan, saya merasa menjadi manusia yang berbeda dan lebih baik.

Kemudian, setelah saya pengsiun dari bem km ugm, saya diajak oleh seorang teman bernama niccolo attar / bang attar untuk masuk ke dalam sebuah organisasi ekstra kampus. Siapa yang tidak tahu dengan HMI? Himunan Mahasiswa Islam yang merupaan sebuah organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia. Akhirnya saya mengikuti LK I (Latihan Kader) HMI Cabang Bulaksumur Yogyakarta. Waktu itu diketuai oleh Kanda Lukman Al-Haries. Setelah saya mengikutinya, saya semakin tercengang saja dengan keadaan yang menurut saya benar-benar hebat dan menginspirasi saya agar menjadi orang besar. Ternyata HMI telah mampu melahirkan begitu banyak tokoh-tokoh terkemuka bangsa ini seperti Bang Akbar Tanjung, Yusuf Kalla, Munir, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sungguh, saya harus menjadi orang besar pula dikemudian hari.

Pengetahuan saya tentang sejarah Indonesia, sejarah mahasiswa indonesia, sejarah islam di indonesia semakin lengkap saja setelah saya bergabung di HMI Cabang Bulaksumur ini. Budaya baca yang selalu diterapkan para senior disana menuntut saya akhirnya mau tidak mau baca buku. Kanda Erwin Natoesmal Oemar yang berasal dari Padang bisa dikatakan sebagai pembaca sejati. Katanya, kita bisa bicara kalau kita punya data. Dan salah satu data kita dapatkan dari hasil membaca! Sungguh, lingkungan yang hebat! Saya mulai bermetamorfosa dengan keadaan yang semakin menuntut saya melakukan perubahan dan semakin berfikir kritis tentang segala sesuatu hal. Sebuah keberuntungan bagi saya dapat menjadi bagian kecil dari perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam.

Di tahun, 2008 saya mulai belajar mengamati dinamika kampus serta perpolitikan kampus. Bagaimana saya memetakan peta organisasi ektra kampus yang bersinergis dengan post-post kekuasaan di peerintahan mahasiswa sepeti bem km dan bem fakultas di ugm. Apalagi pemilihan preside mahasiswa dan anggota senatnya melalui sistem kepartaian seperti halya di Indonesia. Tentu ini menarik untuk dijadikan ajang pembelajaran pribadi. Akhirnya, menjelang pemilihan raya mahasiswa ugm tahun 2008, teman seperjuangan saya niccolo attar berencana membuat sebuah partai mahasiswa baru bernama Partai Boulevard. Saya dengan penuh semangat siap untuk mendukungnya.

Akhirnya, kita semua di Himpunan Mahasiswa Islam bersama sama berjuang untuk melakukan pendaftaran dan alhamdulillah lolos verifikasi dan menjadi salah satu partai mahasiswa di pemira 2008. Dengan perjuangan sekuat tenaga akhirnya Partai Boulevard langsung berada di posisi kedua dari sekitar delapan partai mahasiswa lainnya. Tentu ini merupakan sebuah prestasi yang membanggakan. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak ketidak sepahaman saya bersama mas rusnan bajang terkait mekanisme yang di jalankan Partai Boulevard, profesionalitas belum mampu dijunjung tinggi menjelang pemira 2009 menghentikan langkah saya untuk tetap berada dalam barisan kuning hitam (boulevard). Saya pun memilih untuk berdiam diri, melakukan instrospeksi dan evaluasi diri. Akhirnya, dengan berbagi pandangan dan pemikiran dan bahwa di kampus ini segala sesuatu nya adalah ajang pembelajarn saja, maka saya bersama mas rusnan bajang, amrin husein, dan mohamad firaz, memutuskan untuk membuat sebuah partai mahasiswa baru yang akhirnya disepakati bernama Partai Macan Kampus. 

Ini adalah babak baru kemandirian saya dalam melakukan pergerakan di kampus UGM. Tentu hal ini menuai pro kontra dalam tubuh HMI terutama Komisariat Fisipol UGM. Banyaknya sih yang kontra, apalagi setelah tahu bahwa saya juga mencalonkan diri menjadi Calon Presiden Mahasiswa UGM melalui jalur independent. Ini adalah sebuah masalah besar bagi mereka, mengapa? karena partai boulevard juga mengusung calon presiden mahasiswa ugm dari hmi. Ditakutkan adanya perpecahan suara bahkan gerakan kedepannya. Bujukan datang dari para senior saya, ada yang menawarkan lebih baik saya naik dari partai boulevard saja, tapi pada akhirnya mereka semua menghargai pilihan saya ini. Saya sadar betul, bahwa manuver saya ini menuai kontroversi. Namun, perjuangan harus tetap berjalan pada porosnya. Lanjut!

Sebetulnya, jika boleh jujur, manufer saya ini dimaksudkan menguji teori-teori politik yang saya miliki setelah dua tahun berorganisasi di UGM. Saya sangat tidak sepakat dengan sebuah pakem yang menyebutkan bahwa ekonomi itu bapaknya politik. Uang dan partai itu ibarat bensin dan motor. Kalau tidak ada bensin ya motor nggak bisa jalan. Itu salah satu pendapat dari kawan seperjuangan saya di boulevard. Saya kurang sepakat, dan sampai sekarang pun tetap tidak. Makanya, saya ingin menguji secara nyata teori saya dan teori kawan saya itu. Sebetulnya saya hanya mendambahkan sedikit saja, ya kalau nggak ada bensin, kita berusaha dorong motor itu pake tenaga kita menuju tujuan. Setidaknya, kita punya usaha dan perjuangan. Uang jangan pernah dijadikan modal utama perjuangan.

Perhitungan suara pun dimulai. Partai Macan Kampus di pemira ugm 2009, menempati urutan kelima dengan perolehan suara 808 dan memperoleh dua kursi di dewan perwakilan mahasiswa ugm. Sementara saya dengan bermodal uang sebesar 300rb saja, alhamdulillah mendapatkan suara sekitar 1977. Alangkah senang hati saya, bahwa terjawab sudah bahwa dengan kerja keras dan perjuangan sekuat tenaga, dengan modal yang sedikit pun akan mampu mendapatkan kepercayaan dari banyak orang. Kreatifitas dan kerja keras menjadi modal utamanya. Kekuasaan bukanlah tujuan akhir saya. Pembelajaran akan lebih berharga dibandingkan tahta. Saya mendapat banyak pelajaran berharga setelah moment pemira itu.

Setelah pemira usai, saya pun memilih untuk bersilaturahmi ke sekretariat hmi. Saya katakan, momentnya telah usai. Saatnya kembali menyatukan visi menghadapi kongres mahasiswa ugm yang perlu diakannya beberapa perubahan mendasar (ad-art) di KM UGM. Sungguh, waktu itu saya merasa sudah menjadi orang politik beneran, teradang tersenyum dalam hati, benar-benar di kampus ini kita diberikan ruang untuk berekpresi dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan kita. Mantap! Nampaknya, banyak sekali hal yang secara langsung ataupun tidak langsung membentuk kepribadian dan cara berfikir saya dikemudian hari. Pernah berkuliah di UGM adalah sebuah prestasi terbesar saya mungkin. Kesempatan yang saya dapatkan menjadi mahasiswa ugm selama kurang lebih tiga tahun, saya manfaatkan semaksimal mungkin. Meskipun saya tidak dapat membawa ijazah UGM, tapi segala hal yang saya dapatkan darinya lebih berharga dibandingkan secarik kertas saja. Mudah-mudahan bermanfaat bagi ummat dan bangsa di kemudian hari.

Di tahun ini, namaknya saya tidak akan memberikan ampun atas stiap ide dan gagasan yang muncul dari kepala ini. Semuanya harus dieksekusi (dalam bahasa Jokowi). Jangan biarkan tahun ini hampa, kosong, seperti tak berpenguni. Setidanya tahun 2013 adalah tahun pengaplikasian atas ilmu-ilmu, pengalaman-pengalaman, dan gagasan-gagasan saya tentang perubahan bangsa yang diawali dari perubahan terkecil yaitu diri saya sendiri. Menjadi mahasiswa ugm adalah sebuah uforia yang takkan pernah saya lupakan. Semoga dikemudia hari kita dipertemukan kembali dalam lingkungan dan skala yang lebh besar. Kawan-kawan seperjunganku di UGM akan selalu kuingat sepanjang hayat. Kalian semua adalah orang-orang yang saya yakini akan menjadi orang besar di hari esok. Mari kita saling membuktikan apa yang menjadi komitmen kita dahulu disaat muda. Saya akan selalu ingat dengan gagasan besar kalian. Awas saja jika kalian menyerah dengan keadaan dan menguburnya dalam-dalam, akan kutampar kalian agar sadar kembali dengan esensi perjuangan yang selalu kita agung agungkan. Bahwa perjuangan kita untuk kemajuan masyarakat.

Terimakasih banyak semuanya.... (^-^)/