13 Oktober, 2010

Ketimpangan Sosial Menghambat Pendidikan


Pendidikan merupakan suatu keharusan, bahkan menurut saya sudah menjadi suatu kewajiban bagi setiap manusia untuk merasakannya di era global yang serba modern ini. Namun, jika saya memperhatikan pendidikan di negeri ini, terkadang membuat saya meringis. Buktinya, masih banyak anak-anak yang tidak bersekolah, masih banyak daerah-daerah yang belum mempunyai sekolah yang layak, dan masih banyak lagi cerita lainnya. Melalui artikel ini, saya akan mencoba memaparkan secara sederhana mengenai hubungan atau kaitan antara ketimpangan sosial dengan pendidikan itu sendiri.

Beberapa hari kemarin saya mewawancarai beberapa mahasiswa di Universitas Jenderal Ahmad Yani terkait dengan hal tersebut. Yang saya tanyakan kepada mereka antara lain, “Apakah betul ketimpangan sosial itu dapat menghambat seseorang untuk mendapatkan pendidikan?” Narasumber pertama bernama Endang Lukman, mahasiswa ilmu pemerintahan asal cikampek. Dia menjawab: “Ya, ketimpangan sosial di masyarakat kita dapat menghambat pendidikan mereka. Alasannya, untuk menerima pendidikan formal seperti sekolah itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Harus membeli seragam sekolah, sepatu, alat tulis dan lain sebagainya. Jadi, pemerintah bukan hanya memberikan pendidikan gratis saja, akan tetapi harus mempunyai cara bagaimana mensejahterakan rakyatnya agar mampu mengakses pendidikan dengan baik”

Lain halnya dengan narasumber yang kedua. Menurut Renold, mahasiswa ilmu pemerintahan, dia berpendapat bahwa “Saat ini pendidikan sudah gratis. Maka tidak ada alasan bagi yang tidak mampu untuk tidak mengakses pendidikan.” Namun, menurutnya anak-anak jalanan dan masyarakat kecil harus diperhatikan secara khusus agar mereka tidak minder dan menganggap pendidikan itu sangatlah penting bagi mereka.

Jika saya mencoba menganalisa dari pernyataan dua narasumber tadi, maka dapat saya gambarkan bahwa pendidikan dan keadaan sosial itu saling berkaitan dan mempunyai pengaruh satu dengan yang lainnya. Banyaknya anak-anak jalanan yang tidak bersekolah merupakan suatu bukti nyata bahwa pemerintah kita belum “becus” mengurusi pendidikan bagi rakyatnya secara serius. Seolah pemerintah tidak melihat realita yang terjadi di masyarakatnya. “Bukannya mereka tidak mau bersekolah, namun karena mereka tak punya biaya untuk itu.” Buat makan mereka saja, mereka harus membanting tulang dengan memunguti botol-botol plastik, menjadi seorang pemulung, pengamen jalanan, bahkan mengemis sekalipun. Lalu apa solusi yang diberikan pemerintah agar permasalahan ini dapat segera terselesaikan?

Menurut saya pribadi, pendidikan luar sekolah dapat menjadi solusinya. Pemerintah dapat memberdayakan para mahasiswa dan para pegiat sosial untuk menjadi relawan di sanggar-sanggar anak jalanan misalnya. Sebetulnya, sudah cukup banyak dibangun sanggar-sanggar bagi para anak jalanan agar sembari mencari uang buat makan mereka dan keluarganya, mereka juga mendapatkan pendidikan gratis secara cuma-cuma. Di sanggar itu, mereka tak perlu memakai seragam atau sepatu. Yang mereka siapkan hanyalah niat untuk lebih menjadi orang yang lebih baik.

Ini adalah pekerjaan rumah kita bersama sebagai seorang mahasiswa yang “katanya” adalah kaum intelektual muda. Kaum pencerah yang dapat menerangi masyarakatnya di saat berada dalam kegelapan. So, Mari kita bersama-sama membangun bangsa ini dari hal yang kecil. Mendirikan sanggar-sanggar bagi mereka (anak jalanan) akan menjadi mudah jika kita lakukan bersama-sama. Sampai di kemudian hari, tidak ada alasan lagi bagi anak-anak bangsa untuk tidak mendapatkan pendidikan. Salam perubahan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Comment Disini...