15 Oktober, 2010

Pendidikan Kata Mereka

Pendidikan merupakan suatu keharusan, bahkan menurut saya sudah menjadi suatu kewajiban bagi setiap manusia untuk merasakannya di era global yang serba modern ini. Namun, jika saya memperhatikan pendidikan di negeri ini, terkadang membuat saya meringis. Buktinya, masih banyak anak-anak yang tidak bersekolah, masih banyak daerah-daerah yang belum mempunyai sekolah yang layak, dan masih banyak lagi cerita lainnya. Melalui artikel ini, saya akan mencoba memaparkan secara sederhana mengenai hubungan atau kaitan antara ketimpangan sosial dengan pendidikan itu sendiri.

Beberapa hari kemarin saya mewawancarai beberapa orang yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat di daerah Cihampelas. Yang saya wawancarai untuk pertama kali bernama Daud (23). Dia adalah lulusan sekolah menengah kejuruan empat tahun lalu. Menurutnya, pendidikan di negeri ini belum baik. Kurikulum yang terlalu berbelit-belit dan gonta-ganti adalah salah satu contoh buruknya pendidikan di negeri ini. Kemudian, mengenai kualitas pendidikan dan sarana prasarana pendidikan yang belum terselesaikan. Masih banyak sekolah-sekolah pavorit yang masih tetap memunguti sumbangan pendidikan dengan berbagai dalih. Misalnya di smp-smp pavorit di kota bandung ini. Harapannya, menurut dia pemerintah harus memberikan pendidikan gratis dari sd sampai sma dengan tanpa syarat.

Kemudian, saya melihat seorang ibu-ibu yang sedang mengais seorang anak yang masih balita. Saya pun tertantang untuk mewawancarainya. Namanya ibu Oneng, dia adalah ibu dari empat orang anak yang sedang mencari uang untuk sesuap nasi dengan cara mengemis. Disaat saya tanya mengenai pendidikannya, dia berkata “Kalau ibu sekolah hanya sampai kelas 6 sd saja neng” “Kenapa tidak dilanjutkan bu? Tanya saya” Dia menjawab “Dulu mah sekolah itu belum gratis, jadi karena nggak punya biaya, orangtua ibu menyuruh untuk bekerja saja biar menghasilkan uang untuk kehidupan sehari-hari” Menurutnya pendidikan itu sangat penting agar masa depan kita lebih baik. Di kalangan anak jalanan itu ada yang mau sekolah ada juga yang tidak. Yang tidak mau bersekolah itu biasanya mereka sudah tahu dengan yang namanya uang. Daripada duduk di bangku sekolah dan tidak mendapatkan uang, lebih baik mengamen atau mengemis di jalanan lalu mereka mendapatkan uang buat jajan.

Setelah saya menyimak pernyataan dari dua narasumber diatas, menurut saya pendidikan di Indonesia saat ini masih perlu perbaikan di berbagai bidang. Entah itu kurikulumnya, sarana prasarananya, sistemnya, dan juga implikasinya terhadap masyarakat luas khususnya masyarakat kurang mampu. Pemerintah harus ikhlas dalam memberikan pendidikan yang layak bagi rakyatnya. Semoga di kemudian hari pendidikan di negeri ini semakin mendekati titik terang. “Mencerdaskan kehidupan bangsa” pun terpenuhi oleh negeri ini.  

Jadi, janganlah kita sia-siakan apa yang telah kita miliki saat ini. Baik itu kesempatan kita untuk mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi atau berada dalam kondisi sosial yang bisa dikatakan “mampu”. Gunakan sebaik mungkin kesempatan ini dengan cara berbagi manfaat dengan yang lainnya. Agar kita menjadi manusia yang berguna bagi keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa. Amin

13 Oktober, 2010

Ketimpangan Sosial Menghambat Pendidikan


Pendidikan merupakan suatu keharusan, bahkan menurut saya sudah menjadi suatu kewajiban bagi setiap manusia untuk merasakannya di era global yang serba modern ini. Namun, jika saya memperhatikan pendidikan di negeri ini, terkadang membuat saya meringis. Buktinya, masih banyak anak-anak yang tidak bersekolah, masih banyak daerah-daerah yang belum mempunyai sekolah yang layak, dan masih banyak lagi cerita lainnya. Melalui artikel ini, saya akan mencoba memaparkan secara sederhana mengenai hubungan atau kaitan antara ketimpangan sosial dengan pendidikan itu sendiri.

Beberapa hari kemarin saya mewawancarai beberapa mahasiswa di Universitas Jenderal Ahmad Yani terkait dengan hal tersebut. Yang saya tanyakan kepada mereka antara lain, “Apakah betul ketimpangan sosial itu dapat menghambat seseorang untuk mendapatkan pendidikan?” Narasumber pertama bernama Endang Lukman, mahasiswa ilmu pemerintahan asal cikampek. Dia menjawab: “Ya, ketimpangan sosial di masyarakat kita dapat menghambat pendidikan mereka. Alasannya, untuk menerima pendidikan formal seperti sekolah itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Harus membeli seragam sekolah, sepatu, alat tulis dan lain sebagainya. Jadi, pemerintah bukan hanya memberikan pendidikan gratis saja, akan tetapi harus mempunyai cara bagaimana mensejahterakan rakyatnya agar mampu mengakses pendidikan dengan baik”

Lain halnya dengan narasumber yang kedua. Menurut Renold, mahasiswa ilmu pemerintahan, dia berpendapat bahwa “Saat ini pendidikan sudah gratis. Maka tidak ada alasan bagi yang tidak mampu untuk tidak mengakses pendidikan.” Namun, menurutnya anak-anak jalanan dan masyarakat kecil harus diperhatikan secara khusus agar mereka tidak minder dan menganggap pendidikan itu sangatlah penting bagi mereka.

Jika saya mencoba menganalisa dari pernyataan dua narasumber tadi, maka dapat saya gambarkan bahwa pendidikan dan keadaan sosial itu saling berkaitan dan mempunyai pengaruh satu dengan yang lainnya. Banyaknya anak-anak jalanan yang tidak bersekolah merupakan suatu bukti nyata bahwa pemerintah kita belum “becus” mengurusi pendidikan bagi rakyatnya secara serius. Seolah pemerintah tidak melihat realita yang terjadi di masyarakatnya. “Bukannya mereka tidak mau bersekolah, namun karena mereka tak punya biaya untuk itu.” Buat makan mereka saja, mereka harus membanting tulang dengan memunguti botol-botol plastik, menjadi seorang pemulung, pengamen jalanan, bahkan mengemis sekalipun. Lalu apa solusi yang diberikan pemerintah agar permasalahan ini dapat segera terselesaikan?

Menurut saya pribadi, pendidikan luar sekolah dapat menjadi solusinya. Pemerintah dapat memberdayakan para mahasiswa dan para pegiat sosial untuk menjadi relawan di sanggar-sanggar anak jalanan misalnya. Sebetulnya, sudah cukup banyak dibangun sanggar-sanggar bagi para anak jalanan agar sembari mencari uang buat makan mereka dan keluarganya, mereka juga mendapatkan pendidikan gratis secara cuma-cuma. Di sanggar itu, mereka tak perlu memakai seragam atau sepatu. Yang mereka siapkan hanyalah niat untuk lebih menjadi orang yang lebih baik.

Ini adalah pekerjaan rumah kita bersama sebagai seorang mahasiswa yang “katanya” adalah kaum intelektual muda. Kaum pencerah yang dapat menerangi masyarakatnya di saat berada dalam kegelapan. So, Mari kita bersama-sama membangun bangsa ini dari hal yang kecil. Mendirikan sanggar-sanggar bagi mereka (anak jalanan) akan menjadi mudah jika kita lakukan bersama-sama. Sampai di kemudian hari, tidak ada alasan lagi bagi anak-anak bangsa untuk tidak mendapatkan pendidikan. Salam perubahan...