20 Februari, 2010

Banjir di Kabupaten Bandung Mulai Surut

TEMPO Interaktif- @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } -->, Bandung - Ketinggian air yang menggenangi kawasan Baleendah, Dayeuhkolot Kabupaten Bandung, berangsur surut. "Air sudah turun sejak dini hari tadi." kata Leli Djayanti Winata, warga Kampung Andir, saat dihubungi Tempo, tadi sore.
Meski air mulai surut, warga sekitar bantaran sungai Citarum belum menurunkan dan membereskan barang-barang yang sempat mereka naikkan di rumahnya. Warga masih khawatir banjir datang lagi. "Biasanya, kalau hujan datang lagi, air bisa masuk rumah lagi,” ujar Leli yang rumahnya masih terrendam sedalam satu meter-an.

Bupati Bandung Obar Sobarna mengatakan pemerintah sudah menyiapkan bantuan untuk korban banjir berupa tenda, perahu karet, dan makanan. "Semuanya stand-by," ujar Obar saat dihubungi. "Logistik yang diterima dari provinsi sudah disalurkan."

Menurut Obar, banjir kali ini merupakan banjir tahunan. Masyarakat sudah mempersiapkan diri dengan membuat tanggul-tanggul kecil di sekitar kampung mereka.
Jalur lalu lintas menuju wilayah selatan Kabupaten Bandung, menurut Obar, juga berangsur normal. Tak ada lagi genangan di jalan utama yang menghubungkan wilayah Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, seperti di Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang, dan Ciparay. Meski begitu, kata Obar, “Kami tetap siaga karena hujan masih bisa turun."
ALWAN RIDHA RAMDANI

Banjir Kabupaten Bandung Terparah dalam Dua Dekade

BANDUNG--Banjir yang melanda Kabupaten Bandung, Jawa Barat saat ini merupakan banjir terparah dalam kurun waktu lebih dari dua dekade setelah banjir besar terjadi tahun 1986. Pernyataan tersebut disampaikan Bupati Bandung, Obar Sobarna, Jumat terkait banjir besar yang melanda kawasan Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot dan Banjaran.

"Dari ketinggian permukaan air yang mencapai empat meter, luasan wilayah dan korban banjir mengalami kenaikan beberapa kali lipat akibat curah hujan yang cukup tinggi, kerusakan alam dan letak wilayah yang berada di cekungan Bandung," ujarnya saat mendampingi kunjungan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, Jusuf Kalla.

Ketinggian permukaan air di wilayah Baleendah, Banjaran dan Dayeuhkolot mencapai empat meter hingga menutupi atap rumah warga.  "Ketinggian air di wilayah Baleendah yang berada di bantaran Sungai Citarum biasanya mencapai dua meter dan terjadi di beberapa desa saja," ujarnya. "Warga yang rumahnya berada agak jauh dengan sungai Citarum mengalami genangan air hingga setinggi 1.5 meter sehingga jumlah pemukiman penduduk yang terkena banjir mencapai lebih dari sepuluh ribu unit," katanya.

Hal ini akibat curah hujan yang tinggi dalam tiga minggu terakhir sehingga volume genangan air semakin besar dan meluas ke berbagai wilayah kecamatan yang berdekatan dengan sungai ataupun anak Sungai Citarum. "Baleendah dan Dayeuhkolot berada di cekungan Bandung yang merupakan area paling rendah dibandingkan Kota Bandung dan sekitarnya sehingga air dari anak-anak sungai yang bermuara ke Sungai Citarum tertampung di titik ini dan luber," ujarnya.

Ketika ditanyakan kabar adanya tanggul Situ Cileunca yang jebol, BUpati yang masa jabatannya akan berakhir di tahun ini membantahnya. "Tanggul situ tidak jebol maupun retak namun karena volume air besar maka luber ke luar situ," tegasnya. Mengenai solusi dari permasalahan banjir yang setiap tahunnya "memakan" korban Baleendah dan sekitarnya, Obar menjelaskan telah membuat usulan untuk membangun tiga buah rumah singgah di wilayah Cieunteung, membangun sekolah bertingkat di wilayah banjir dan membuat bendungan kecil," tutunya.

"Untuk merelokasi pemukiman di wilayah bantaran Sungai Citarum sangatlah tidak mungkin karena adanya penolakan warga dan keterbatasan anggaran sehingga yang dapat kita lakukan adalah meminimalisisasi kerugian warga," katanya. Ia menjelaskan hal ini telah dibahas dengan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono beberapa waktu lalu jika merelokasi pemukiman penduduk. "Menkokesra juga sependapat jika dibangun rumah susun (rusun) jika warga yang telah biasa tinggal dan mencari uang di wilayah rawan banjir menolak relokasi.

Bupati menjelaskan juga pengerukan sungai yang dilakukan pemerintah pusat sesungguhnya telah berhasil dilaksanakan meski banjir masih terjadi. "Di wilayah yang berdekatan dengan sungai yang telah dikeruk seringkali tidak mengalami banjir meski saat ini menjadi korban," ujarnya. Namun ia mengakui adanya perubahan wilayah yang terkena banjir setelah pengerukan. "Dulu Bojongsoang merupakan wilayah terparah saat ini bergeser menjadi Cieunteung yang merupakan lokasi paling parah akibat normalisasi dan belum tuntasnya pengerukan yang telah dilakukan selama tujuh tahun terakhir," katanya.

Sejak tiga minggu terakhir warga Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang terkena banjir namun Kamis malam lalu (18/2) wilayah lainnya seperti Banjaran, Rancaekek, Soreang dan dua kecamatan lainnya mengalami hal serupa akibat meluapnya Sungai Citarum.