05 Oktober, 2009

Tenda Sekolah Untuk Jawa Barat Sebagian Dialihkan Ke Sumbar



Tenda Sekolah untuk Jabar Dikurangi
Tuesday, 06 October 2009
BANDUNG (SI) – Sebanyak 250 dari 500 tenda sekolah darurat bantuan Unicef untuk para siswa korban gempa di Jawa Barat dialihkan ke Sumatera Barat.


Menurut Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar Wahyudin Zarkasyi, pengalihan tersebut merupakan permintaan dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). ”Bantuan harus dibagi dua karena terjadi gempa dahsyat juga di Sumbar,” jelas Wahyudin kepada Seputar Indonesia,kemarin. Dia berharap, kebutuhan tenda untuk sekolah darurat dapat dipenuhi pihak lain. Misalnya Departemen Sosial (Depsos), swasta, maupun non government organization(NGO).

Di tempat terpisah,Ketua Harian Tim Rekonstruksi Disdik Jabar Dudi S Abdurachim mengaku semua pihak dapat memaklumi pengalihan sebagian tenda sekolah darurat ke Sumbar. Kemarin, 150 dari 250 tenda bantuan Unicef telah tiba di titik bongkar, Balai Pendidikan Teknologi Pendidikan (BPTP) di Jalan Pahlawan,Kota Bandung. Tenda-tenda Unicef merupakan buatan lokal dan buatan luar negeri. Satu tenda lokal terdiri atas 1 peti yangcukupuntuk1kelas.Sementara 1 tenda buatan luar negeri terdiri atas 5 peti yang cukup untuk dua kelas dan lebih kokoh.Tenda lokal cocok untuk daerah terpencil dengan medan berkontur sementara tenda impor lebih cocok digunakan di perkotaan dengan medan datar.

Disdik bekerja sama dengan TNI untuk mendistribusikan tenda- tenda ini.Tujuan pertama adalah Pangalengan di Kabupaten Bandung dan Kota Tasikmalaya. Sementara itu Sekretaris Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satkorlak PB) Jabar Sigit Ujwalprana menyatakan, secara keseluruhan dibutuhkan 2.000 tenda untuk melancarkan kegiatan belajar mengajar siswa sekolah di daerah terdampak gempa di Jabar. Saat ini,lanjut dia, Pemprov Jabar masih terfokus pada upaya memperbaiki kerusakan tempat tinggal warga.Antara lain dengan pendirian rumah-rumah bambu agar tak ada lagi pengungsi di penampungan.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf. ”PMI (Palang Merah Indonesia) sudah memasang kurang lebih 20 rumah bambu di Kabupaten Bandung dan ternyata efektif.Jadi kita coba saja membangun lebih banyak lagi. Selama tahap rekonstruksi berlangsung, warga tinggal di rumah bambu atau bilik itu,”jelas Dede. (krisiandi sacawisastra/rudini)

Ada Apa Dengan Indonesiaku Ini ??? Gempa datang lagi, Padang di September Kelabu...


01 Oktober, 2009

Dialog Si Miskin VS Anggota Dewan

Sungguh merupakan sebuah pemandangan yang baru bagi kita bangsa Indonesia. Melihat banyaknya kalangan artis dan anak muda yang duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) katanya. Mereka dipilih oleh rakyat, yang seharusnya bekerja untuk rakyat tentunya. Namun lain halnya jika saya melihat semua itu dari kacamata kuda rasio saya. Dalam arti, tidak ada ruang sedikit pun bagi pikiran saya untuk ber-husnudzan alias positif ting-ting. Tentunya, bukan berarti pula saya akan berfikiran yang negatif-negatif. Seolah sebagai kaum miskin, ya pengetahuannya, ya kehidupannya. Dan hanya bisa menilai sebuah  kenyataan (realitas) dari apa yang dilihat, disaksikan, didengar, bahkan dirasakannya. Tanpa perlu menalarnya terlebih dahulu. Saya berkata-kata seperti si miskin (ngutruk,dalam bahasa sunda;) : 


Kerjamu hanya mengumpulin harta saja !!!
Dasar Makhluk Egois...!!!
Kata-katamu sungguh manis,,, dulu...
Sekarang,,, mana kenal kau padaku...
Mana mau kau mengurusi kebutuhanku...


Padahal, kau aku pilih bukan hanya untuk itu,,,

Mana janji-janjimu dulu??? 
Jikapun memang benar kau telah menyuapku,,,,
Dan aku memang menerimanya,,,Tapi,,,
Itu hanyalah sebuah keterpaksaan dari semesta alam,,,

Sungguh gendeng negeri ini,,,
Bisa membuat semuanya berbalik ...
Suap-menyuap seakan-akan menjadi sebuah kebajikan saja...
Padahal dulu,,, aku tau itu sebuah kecurangan...

Sekarang aku bingung,,, 
Harus percaya sama siapa ???


Kang Ihsan, (gerutu senja untukmu pak dewan,,,)


Disaat si miskin bergerutu diatas,,, mungkin bisa membuat telinga-telinga pak dewan kepanasan. Mereka merasa tidak seperti apa yang dikatakan  si miskin tadi. Sang anggota dewan pun balik membalas gerutuan itu:

Aku bekerja untuk rakyat...
Aku akan memperjuangkan hak-hak kalian di depan meja persidangan...
Aku ini sang wakil rakyat pilihanmu....
Percayalah Padaku...


Lalu, dengan penuh amarah, si miskin pun berseru dengan lantang dihadapan kaumnya. Dia berpidato;

Rakyat yang mana???
Apakah kalian beragama???
Kalau memang beragama,,, Apakah diwajibkan atas kalian untuk berkendaraan mewah, harta melimpah, rumah yang megah, disaat kalian menjadi seorang wakil rakyat ???
Mewakili tuhan, saya katakan tidak ada kewajiban seperti itu !!!
Itu semua hanyalah sebuah keserakahan yang datang dalam diri-diri kalian,,,
Saking begitu kuatnya,,, Kalian tidak dapat melawannya... 
Dan aku katakan kalianlah makhluk serakah di negeri ini...

Tapi,,, Saya yakin, bahwa diantara makhluk-makhluk serakah ini,,,,
Masih ada makhluk-makhluk yang ikhlas...
Tuhan maha adil kawan...
Dan sebuah perkataan dari seorang miskin : 
"Bekerja keraslah.... Berfikirlah cerdaslah... Dan Berhati ikhlaslah...."
Kau pun akan selamat...



Jangan-jangan, memang seperti ini adanya,,, lebih pintar mereka si miskin, dibanding wakil-wakil rakyat kita . Karena si miskin, kaya akan hati dan pikirannya. Lain halnya si Kaya. yang miskin hati dan pikirannya. Lalu,

Lebih mulia mana,  rakyat atau pejabat???
Yo percuma, kalau pejabatnya amanah, tapi rakyatnya khianat... Ya pejabat lah yang lebih mulia.
Yo, sama saja... kalau rakyatnya amanah, tapi pejabatnya khianat???... Ya rakyatlah yang lebih mulia.

Jadi,,, Antara rakyat dan pejabat... itu sama saja... yang membedaan hanyalah setingan mental dan pikirannya saja. Tak perlu saling membenci, tak perlu saling mencaci... Bercerminlah dahulu pada diri2 kalian sendiri.... Dan lakukanlah segala sesuatu itu dengan "ikhlas"...


Oleh: Ihsan Ahmad Barokah
Himpunan Mahasiswa Islam Komsat Isipol UGM
(Terinspirasi dari sebuah renungan bersama Pak Heri Santoso)