12 Agustus, 2009

MAHASISWA UGM

"AKSI SEPASANG MAHASISWA UGM, "SUKSESKAN PEMILU 2009""

Diskriminasi Mahasiswa S1 terhadap D3

Diskriminasi, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan kenyataan yang terjadi. Seolah anak D3 itu bukan mahasiswa saja. Hal ini saya alami bersama teman-teman saya di kampus d3 elektro UGM. Tidak sedikit mahasiswa S1 yang menganggap bahwa kita mahasiswa rendahan. Padahal, baik mahasiswa d1, d2, d3, d4, s1, s2, ataupun s3 sama saja. Mereka mempunyai gelar mahasiswa.

Apa yang menyebabkan hal ini terjadi. Saya akan coba kupas satu per satu penyebabnya. Pertama gengsi, terkadang penilaian terhadap mahasiswa d3 lebih identik merendahkan. Mereka menganggap baru mahasiswa kalau jenjang pendidikannya s1. Padahal fakta dilapangan, mahasiswa d3 lebih disiapkan untuk terjun ke dunia industri atau bidangnya. Terbukti dengan padatnya jadwal praktikum dan mata kuliah yang padat. Terutama bagi mahasiswa d3 teknik. Sementara mahasiswa s1, dia lebih kepada teoritis nya. Faktor yang kedua, adalah image. Seolah mahasiswa s1 memang betul-betul lebih baik, lebih pantas, dan lebih berwibawa. Padahal belum tentu. Saya beri contoh, saya dan teman-teman di kelas A, masuk UGM itu tanpa test alias PMDK. Hanya dengan membayar SPMA sebesar 2,5jt saja, kita sudah dapat mengenyam pendidikan di kampus ini. Sementara, disisi lain saya tahu bahwa tidak sedikit mahasiswa s1 yang harus membayar mahal untuk masuk kampus ini. Taruh saja, 30-50 jt. Baru mereka bisa jadi mahasiswa s1 UGM. Kalau boleh saya katakan, ini adalah pertarungan antara "berotak tak berharta" dan "berharta tak berotak". Urusan selesai. Lain halnya dengan mahasiswa s1 yang betul-betul mereka masuk dengan penuh perjuangan dan memang pantas. Oplous buat kalian semua.

Saya ingatkan, bagi seluruh mahasiswa s1 yang masuk UGM dengan kategori "berharta tapi tak berotak" , kalian jangan sombong. Jangan sekali kali mendeskriditkan mahasiswa d3. Sadar diri dong, otak kalian itu melongpong. Masuk UGM karena duit. Ya, sepantasnya lah sadar diri. Marilah kita saling menghargai. Terutama bagi para wanita yang suka gengsi punya temen atau pacar anak d3. Kita sama "mahasiswa". Sesama mahasiswa harus saling menghargai. OKE.. ^_^

Tuhan pun tidak akan melihat kita dari status jenjang pendidikan! Yang ia lihat adalah ketakwaannya (ilmu pengetahuan dan wawasan)

Jangan Katakan Rendah (mahasiswa D3)!!!!




"Ihsan Ahmad Barokah"

09 Agustus, 2009

Pembagian Buku Pelajaran Gratis di Jawa Barat

Buku Gratis Disalurkan Pertengahan Agustus
Minggu, 09 Agustus 2009 , 17:49:00

BANDUNG, (PRLM).- Penyaluran sebagian buku gratis yang didanai Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Provinsi Jawa Barat untuk tahap awal akan dilakukan mulai 11 Agustus 2009 mendatang.

"Insya Allah 11 Agustus ini buku pelajaran gratis itu dikirimkan serentak ke sekolah-sekolah, buku itu selanjutnya dipinjamkan kepada siswa dan menjadi inventaris sekolah," kata Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan di Bandung, Minggu (9/8).

Ia mengakui adanya keterlambatan pembagian dan distribusi buku-buku gratis itu yang semula ditargetkan tersalurkan pada Juli 2009 lalu.

Buku gratis itu, merupakan buku pelajaran yang diuji-nasionalkan. Ia menyebutkan, keterlambatan itu akibat beberapa hal, namun secara umum proses pengadaan buku gratis untuk SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK berjalan sesuai prosesnya.

"Ke depan diharapkan penyaluran buku gratis seperti ini bisa dilakukan sebelum tahun ajaran dimulai," kata Heryawan.

Heryawan menyebutkan, Provinsi Jawa Barat konsisten untuk mengoptimalkan pelayanan pendidikan termasuk salah satunya pengadaan buku gratis untuk meringankan beban orang tua.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jabar menyebutkan penyaluran dana BOS Jawa Barat melalui kabupaten/kota telah disalurkan. Namun karena alasan administrasi penyaluran dana bantuan operasional sekolah dari provinsi lambat.

"Pemprov Jabar begitu juga dengan Pemkab dan Pemkot tidak ada maksud memperlambat. Itu semua ada mekanisme administrasi yang harus dilalui. Namun ke depan tidak akan terulang lagi," kata Heryawan.

Ia menyebutkan, Provinsi Jawa Barat mendapat alokasi dana BOS dari APBN 2009 senilai Rp 2,826 triliun. Sedangkan untuk mengoptimalkan program pendidikan, Pemprov Jabar mengucurkan dana BOS Provinsi senilai Rp 622,7 miliar. (das)***

Pembagian Buku Pelajaran Gratis di Jawa Barat

Buku Gratis Disalurkan Pertengahan Agustus
Minggu, 09 Agustus 2009 , 17:49:00

BANDUNG, (PRLM).- Penyaluran sebagian buku gratis yang didanai Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Provinsi Jawa Barat untuk tahap awal akan dilakukan mulai 11 Agustus 2009 mendatang.

"Insya Allah 11 Agustus ini buku pelajaran gratis itu dikirimkan serentak ke sekolah-sekolah, buku itu selanjutnya dipinjamkan kepada siswa dan menjadi inventaris sekolah," kata Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan di Bandung, Minggu (9/8).

Ia mengakui adanya keterlambatan pembagian dan distribusi buku-buku gratis itu yang semula ditargetkan tersalurkan pada Juli 2009 lalu.

Buku gratis itu, merupakan buku pelajaran yang diuji-nasionalkan. Ia menyebutkan, keterlambatan itu akibat beberapa hal, namun secara umum proses pengadaan buku gratis untuk SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK berjalan sesuai prosesnya.

"Ke depan diharapkan penyaluran buku gratis seperti ini bisa dilakukan sebelum tahun ajaran dimulai," kata Heryawan.

Heryawan menyebutkan, Provinsi Jawa Barat konsisten untuk mengoptimalkan pelayanan pendidikan termasuk salah satunya pengadaan buku gratis untuk meringankan beban orang tua.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jabar menyebutkan penyaluran dana BOS Jawa Barat melalui kabupaten/kota telah disalurkan. Namun karena alasan administrasi penyaluran dana bantuan operasional sekolah dari provinsi lambat.

"Pemprov Jabar begitu juga dengan Pemkab dan Pemkot tidak ada maksud memperlambat. Itu semua ada mekanisme administrasi yang harus dilalui. Namun ke depan tidak akan terulang lagi," kata Heryawan.

Ia menyebutkan, Provinsi Jawa Barat mendapat alokasi dana BOS dari APBN 2009 senilai Rp 2,826 triliun. Sedangkan untuk mengoptimalkan program pendidikan, Pemprov Jabar mengucurkan dana BOS Provinsi senilai Rp 622,7 miliar. (das)***

DPRD Kab Bandung, bahas Sistem Pendidikan

DPRD Membahas Raperda Sistem Pendidikan
Minggu, 09 Agustus 2009 , 12:04:00

SOREANG, (PRLM).- DPRD Kab. Bandung membahas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Sistem Pendidikan Kab. Bandung. Nantinya setiap siswa SD yang akan melanjutkan ke SMP/MTs. harus mengantongi ijazah Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), sedangkan lulusan SMP harus memiliki ijazah Madrasah Diniyah Wustha (MDW).

“Dengan adanya Raperda Sistem Pendidikan Kab. Bandung, maka masalah pendidikan akan lebih jelas. Misalnya, masalah nasib guru honorer, pembiayaan pendidikan, sampai keterkaitan antara pendidikan di Depdiknas dengan Depag,” kata anggota Pansus Raperda Sistem Pendidikan, H. Asep Anwar, ketika dihubungi, Minggu (9/8).

Lebih jauh H. Asep Anwar mengatakan, dengan misi dan visi Kab. Bandung yang berlandaskan relijius seharusnya lulusan SD, SMP, maupun SMA/SMK juga memiliki bekal keagamaan yang baik. “Selama ini pendidikan agama di SD, SMP, SMA maupun SMK masih terbatas sehingga masih banyak siswa-siswanya yang belum bisa membaca Alquran. Ini kan ironis,” ujarnya.

Untuk “menambal” kekurangan itu, kata Asep, maka lulusan SD diharuskan mengikuti pendidikan keagamaan di MDT yang diadakan sore hari. “Lulusan SD harus memiliki ijazah MDT sebelum masuk ke SMP/MTs. Kalau siswa-siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau SD Islam sudah mendapatkan pelajaran agama yang mencukupi sehingga tak perlu ikut MDT. Tapi, kalau siswa MI masuk MDT juga lebih baik,” katanya.

Sedangkan lulusan SMP, kata Asep, diharuskan mengantongi ijazah MDW sebagai kelanjutan dari MDT. “Saat ini jumlah MDW masih terbatas, namun apabila Raperda Sistem Pendidikan ini disahkan dan sudah keluar peraturan bupati (Perbup), maka jumlah MDT dan MDW akan bertambah,” ujarnya. (A-71/A-147)***

Dirgahayu RI ke 64,

Semakin hari rasanya kemeriahan hari kemerdekaan Indonesia semakin memudar. Masih melekat dalam ingatan masa kecil saya, begitu meriahnya masyarakat menyambut hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan berbagai imajinasi dan kreativitas dipertunjukan pada tanggal 17 Agustus tiap tahunnya. Mereka mengikuti konvoi yang puncaknya di alun-alun. Biasanya hal ini dilakukan di setiap kota kecamatan. Ekspresi yang ditunjukan begitu riangnya, seolah sejarah muncul kembali ke permukaan. Bagaimana suka duka yang dirasa orangtua-orangtua kita semasa dulu di tahun 45' yang menyaksikan Negeri tercintanya merdeka.

Kemerdekaan Indonesia tidak diraih dengan membalik telapak tangan belaka. Konspirasi, politik, ekonomi, dan perjuangan mewarnai itu semua. Soekarno, adalah salah satu pelaku sejarah kemerdekaan RI dari sekian banyak pelaku lainnya. Bhinekka Tunggal Ika, digaungkan dengan begitu santernya kepada seluruh rakyat Indonesia. Persatuan, bersatulah! Meskipun kita berbeda-beda, tetapi tetap satu jua. Satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa. Indonesia, tentunya. Pancasila pun dirancang sedemikian rupa agar menjadi pegangan, norma dasar, landasan negara. Puncak tujuan dari semua itu adalah menciptakan Bangsa Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur.

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam. Akan tetapi semua itu berbanding dengan manusia macam perusak. Begitu banyak manusia yang sudah tidak lagi menghiraukan keindahan, kekayaan, bahkan saudara sebangsa nya sendiri. Semakin hari, Indonesia semakin terpuruk dalam persakitannya. Hutan-hutannya digunduli, Minyak-minyak buminya dikuras, atas nama kepentingan individu. Oligarki pun tak terelakan. Yang kaya semakin kaya, yang miskin ya bertambah miskin. Kesenjangan antara keduanya semakin menjauh. Kriminalitas pun seolah menjadi sebuah sikap pelampiasan rasa iri. Kemiskinan bukan lagi menjadi ancaman. Melainkan sudah menjadi sebuah tradisi.

Berapa persen wakil rakyat yang masih sadar akan tanggung jawabnya atas rakyat. Berapa banyak pejabat yang di dalam hatinya masih bersemayang ruh-ruh para pahlawan perjuangan. Yang tanpa pamrih memperjuangkan bangsa ini, bagi cucu-cucu dan turunannya. Sekarang, negeri ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Mau di bawa kemana nasib bangsa ini?

Mari kita bersama-sama merenung dan memanjatkan doa, semoga segudang permasalahan di Bumi Indonesia ini, semakin hari pelahan usia. Tak ada kata mustahil, selama orang yang lebih berada sadar bahwa ada saudaranya yang membutuhkan bantuannya. Baik dari segi moril, materiil, pendidikan, wawasan dan keilmuan. Pendidikan adalah sebuah kunci dari begitu banyak kunci-kunci yang bisa membuka bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Mari kita semarakkan peringatan HUT-RI ke 64 ini, dengan penuh khidmat dan rasa syukur.
Semoga di ulang tahunnya yang ke 64, Indonesia akan lebih baik. Masyarakatnya makmur sejahtera. Bangsanya adil dan beradab. Hiduplah Indonesia Raya !!!!

HUT POLRI dan NOORDIN M TOP

Noordin M Top telah tewas. Setelah 17 jam pengepungan dilakukan oleh Densus 88' (Pasukan Anti Teror Kepolisian RI) di daerah Temanggung Jawa Tengah. Apakah betul? yang tewas itu adalah Noordin M Top? atau BUKAN??? Kontroversi merebak di masyarakat.

Semoga semua ini berjalan dengan natural, tanpa ada rekayasa publik apalagi kebohongan publik. Mengapa disaat pengepungan, kalangan media begitu yakin bahwa di dalam rumah itu tengah berada buronan no wahid indonesia, gembong teroris Noordin M Top. Padahal, tak ada hal atau bukti yang begitu meyakinkan. Saya betul-betul merasa bangga, Indonesia mempunyai pasukan seperti Densus88', terlihat hebat dan siap menghancurkan tirani kejahatan. Akan tetapi, melihat adegan kemarin, seolah semua itu merupakan simulasi belaka. Mungkin memang kita semua berharap bahwa Noordin M Top berada di dalamnya. Nyatanya setelah berlangsung selama 17 jam dan pasukan Densus88' berhasil menguasai medan laga. Alhasil, hanya ditemukan sesosok mayat yang semula di duga Noordin M Top.

Kita lihat saja, mudah2 dengan test DNA semuanya bisa terkuak. Dan peran media massa begitu penting. Masyarakat rupanya menanti nanti sebuah media yang objektif. Bukan hanya mengedarkan issu dan gosip belaka. Akan tetapi diikuti dengan rasionalitas yang tinggi. Kepolisian RI jangan merasa malu, atau bahkan ketakutan hilang pamor. Semuanya telah ada dalam genggamannya, pelaku kejahatn harus tumbang dari bumi indonesia. Akan tetapi disaat yang maha kuasa belum menghendakinya, apa mau dikata?? Mari kita istigozah bersama-sama demi tegaknya panji kebenaran di negeri ini. Selamat ulang tahun Kepolisian RI, Maju terus, pantang mundur.

Dirgahayu Kepolisian RI !!!