01 November, 2009

Aksi HMI Komisariat Fisipol UGM



Kepada Para Mahasiswa.........
Yang Merindukan Kejayaan........
Kepada Rakyat Yang Kebingungan......
Dipersimpangan Jalan.....


Kepada Pewaris Peradaban.....
Yang Telah Menggoreskan......
Sebuah Catatan Kebanggan.....
Di Lembah Sejarah Manusia....


Wahai Kalian Yang Rindu Kemenangan......
Wahai Kalian Yang Turun Ke Jalan......



Ihsan Ahmad Barokah
HMI Komsat Fisipol UGM
    Yakin Usaha Sampai !!!

05 Oktober, 2009

Tenda Sekolah Untuk Jawa Barat Sebagian Dialihkan Ke Sumbar



Tenda Sekolah untuk Jabar Dikurangi
Tuesday, 06 October 2009
BANDUNG (SI) – Sebanyak 250 dari 500 tenda sekolah darurat bantuan Unicef untuk para siswa korban gempa di Jawa Barat dialihkan ke Sumatera Barat.


Menurut Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar Wahyudin Zarkasyi, pengalihan tersebut merupakan permintaan dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). ”Bantuan harus dibagi dua karena terjadi gempa dahsyat juga di Sumbar,” jelas Wahyudin kepada Seputar Indonesia,kemarin. Dia berharap, kebutuhan tenda untuk sekolah darurat dapat dipenuhi pihak lain. Misalnya Departemen Sosial (Depsos), swasta, maupun non government organization(NGO).

Di tempat terpisah,Ketua Harian Tim Rekonstruksi Disdik Jabar Dudi S Abdurachim mengaku semua pihak dapat memaklumi pengalihan sebagian tenda sekolah darurat ke Sumbar. Kemarin, 150 dari 250 tenda bantuan Unicef telah tiba di titik bongkar, Balai Pendidikan Teknologi Pendidikan (BPTP) di Jalan Pahlawan,Kota Bandung. Tenda-tenda Unicef merupakan buatan lokal dan buatan luar negeri. Satu tenda lokal terdiri atas 1 peti yangcukupuntuk1kelas.Sementara 1 tenda buatan luar negeri terdiri atas 5 peti yang cukup untuk dua kelas dan lebih kokoh.Tenda lokal cocok untuk daerah terpencil dengan medan berkontur sementara tenda impor lebih cocok digunakan di perkotaan dengan medan datar.

Disdik bekerja sama dengan TNI untuk mendistribusikan tenda- tenda ini.Tujuan pertama adalah Pangalengan di Kabupaten Bandung dan Kota Tasikmalaya. Sementara itu Sekretaris Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satkorlak PB) Jabar Sigit Ujwalprana menyatakan, secara keseluruhan dibutuhkan 2.000 tenda untuk melancarkan kegiatan belajar mengajar siswa sekolah di daerah terdampak gempa di Jabar. Saat ini,lanjut dia, Pemprov Jabar masih terfokus pada upaya memperbaiki kerusakan tempat tinggal warga.Antara lain dengan pendirian rumah-rumah bambu agar tak ada lagi pengungsi di penampungan.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf. ”PMI (Palang Merah Indonesia) sudah memasang kurang lebih 20 rumah bambu di Kabupaten Bandung dan ternyata efektif.Jadi kita coba saja membangun lebih banyak lagi. Selama tahap rekonstruksi berlangsung, warga tinggal di rumah bambu atau bilik itu,”jelas Dede. (krisiandi sacawisastra/rudini)

Ada Apa Dengan Indonesiaku Ini ??? Gempa datang lagi, Padang di September Kelabu...


01 Oktober, 2009

Dialog Si Miskin VS Anggota Dewan

Sungguh merupakan sebuah pemandangan yang baru bagi kita bangsa Indonesia. Melihat banyaknya kalangan artis dan anak muda yang duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) katanya. Mereka dipilih oleh rakyat, yang seharusnya bekerja untuk rakyat tentunya. Namun lain halnya jika saya melihat semua itu dari kacamata kuda rasio saya. Dalam arti, tidak ada ruang sedikit pun bagi pikiran saya untuk ber-husnudzan alias positif ting-ting. Tentunya, bukan berarti pula saya akan berfikiran yang negatif-negatif. Seolah sebagai kaum miskin, ya pengetahuannya, ya kehidupannya. Dan hanya bisa menilai sebuah  kenyataan (realitas) dari apa yang dilihat, disaksikan, didengar, bahkan dirasakannya. Tanpa perlu menalarnya terlebih dahulu. Saya berkata-kata seperti si miskin (ngutruk,dalam bahasa sunda;) : 


Kerjamu hanya mengumpulin harta saja !!!
Dasar Makhluk Egois...!!!
Kata-katamu sungguh manis,,, dulu...
Sekarang,,, mana kenal kau padaku...
Mana mau kau mengurusi kebutuhanku...


Padahal, kau aku pilih bukan hanya untuk itu,,,

Mana janji-janjimu dulu??? 
Jikapun memang benar kau telah menyuapku,,,,
Dan aku memang menerimanya,,,Tapi,,,
Itu hanyalah sebuah keterpaksaan dari semesta alam,,,

Sungguh gendeng negeri ini,,,
Bisa membuat semuanya berbalik ...
Suap-menyuap seakan-akan menjadi sebuah kebajikan saja...
Padahal dulu,,, aku tau itu sebuah kecurangan...

Sekarang aku bingung,,, 
Harus percaya sama siapa ???


Kang Ihsan, (gerutu senja untukmu pak dewan,,,)


Disaat si miskin bergerutu diatas,,, mungkin bisa membuat telinga-telinga pak dewan kepanasan. Mereka merasa tidak seperti apa yang dikatakan  si miskin tadi. Sang anggota dewan pun balik membalas gerutuan itu:

Aku bekerja untuk rakyat...
Aku akan memperjuangkan hak-hak kalian di depan meja persidangan...
Aku ini sang wakil rakyat pilihanmu....
Percayalah Padaku...


Lalu, dengan penuh amarah, si miskin pun berseru dengan lantang dihadapan kaumnya. Dia berpidato;

Rakyat yang mana???
Apakah kalian beragama???
Kalau memang beragama,,, Apakah diwajibkan atas kalian untuk berkendaraan mewah, harta melimpah, rumah yang megah, disaat kalian menjadi seorang wakil rakyat ???
Mewakili tuhan, saya katakan tidak ada kewajiban seperti itu !!!
Itu semua hanyalah sebuah keserakahan yang datang dalam diri-diri kalian,,,
Saking begitu kuatnya,,, Kalian tidak dapat melawannya... 
Dan aku katakan kalianlah makhluk serakah di negeri ini...

Tapi,,, Saya yakin, bahwa diantara makhluk-makhluk serakah ini,,,,
Masih ada makhluk-makhluk yang ikhlas...
Tuhan maha adil kawan...
Dan sebuah perkataan dari seorang miskin : 
"Bekerja keraslah.... Berfikirlah cerdaslah... Dan Berhati ikhlaslah...."
Kau pun akan selamat...



Jangan-jangan, memang seperti ini adanya,,, lebih pintar mereka si miskin, dibanding wakil-wakil rakyat kita . Karena si miskin, kaya akan hati dan pikirannya. Lain halnya si Kaya. yang miskin hati dan pikirannya. Lalu,

Lebih mulia mana,  rakyat atau pejabat???
Yo percuma, kalau pejabatnya amanah, tapi rakyatnya khianat... Ya pejabat lah yang lebih mulia.
Yo, sama saja... kalau rakyatnya amanah, tapi pejabatnya khianat???... Ya rakyatlah yang lebih mulia.

Jadi,,, Antara rakyat dan pejabat... itu sama saja... yang membedaan hanyalah setingan mental dan pikirannya saja. Tak perlu saling membenci, tak perlu saling mencaci... Bercerminlah dahulu pada diri2 kalian sendiri.... Dan lakukanlah segala sesuatu itu dengan "ikhlas"...


Oleh: Ihsan Ahmad Barokah
Himpunan Mahasiswa Islam Komsat Isipol UGM
(Terinspirasi dari sebuah renungan bersama Pak Heri Santoso)



30 September, 2009

Hukum Islam dan Prinsip Keadilan


Meski negara ini berpenduduk Mayoritas muslim, namun upaya menegakan nilai-nilai Islam e dalam hukum nasionalbukanlah hal yang mudah. Bahkan, hal yang merintangi hal ini pun berasal dari kaum Muslimin sendiri juga. Alasannya, seolah mereka ingin bersikap netral alias tidak membawa salah satu agama ke dalam pembukuan atau Batang Tubuh Undang-Undang Dasar Negara.

"Kami bersikap netral, supaya bangsa ini bersatu." Itulah alasan mengapa nilai-nilai Islam tidak diikutsertakan ke dalam tatanan pemerintahan. Sampai sekarang masih bisa kita dengan pernyataan seperti itu dari pemimpin-pemimpin kebangsaan. Pendirian seperti itu kalaulah dibuat perbandingan logikanya seperti ini; "Ada 60 jiwa di dalam sebuah perjalanan, 64 dari mereka ingin makan nasi, seorang ingin makan jagung, seorang mau makan kentang, seorang mau makan ubi, dan seorang lagi mau makan kacang."

Melihat perselisihan ini pemimpin mereka ambil keputusan yang netral, yaitu tidak nasi, tidak jagung, tidak lainnya, tetapi kamu sekalian meski makan ketan. Padahal, dalam perkumpulan-perkumpulan di pengadilan, di rapat-rapat, sudah lumrah, bahwa suara terbanyak itulah yang teranggap; suara sedikit itu terpaksa mengalah. Keadaan seperti ini sudah umum, dipandang adil oleh yang bodoh dan yang pandai. Namun, dalam hal pergerakan saja keadilan itu dianiyaya. Suara terbanyak mesti kalah dengan suara yang sedikit. Kepentingan orang-orang yang hampir 90% mesti musnah dengan sebab kemauan orang-orang yang 10%.

Hendaknya pemimpin itu ketahui, bahwa orang-orang Islam, mau asas Islam itu, tidak lain, melainkan karena diperintah oleh agamanya, bukan hawa nafsu. Mau tak mau selama ia beragama Islam, mesti ia berasas Islam di tiap-tiap tempat dan urusan yang perlu kepada satu asas. Bukan seorang muslim jika ia tolak asas Islam."

(A.Hassan VS Soekarno) bersambung,,,

Tipe Mahasiswa Yang Satu Ini



Idealis Pemimpi


Tipe Idealis Pemimpi sangat berhati-hati dan oleh karenanya tampak pemalu dan pendiam bagi orang lain. Mereka berbagi kehidupan emosional mereka yang kaya serta pendapat-pendapat kuat mereka dengan sedikit sekali orang. Namun orang sering keliru menilai mereka dingin dan pendiam. Mereka memiliki sistem nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang murni dan mulia yang menonjol di dalam diri mereka yang demi hal-hal itu mereka bersedia mengorbankan banyak hal. Joan of Arc atau Sir Galahad adalah contoh tipe kepribadian ini. Tipe Idealis Pemimpi selalu berusaha keras memperbaiki dunia. Mereka dapat sangat memikirkan orang lain dan melakukan banyak hal untuk mendukung mereka dan membela mereka. Mereka tertarik dengan sesama mereka, penuh perhatian dan murah hati terhadap mereka. Begitu antusiasme mereka akan suatu hal atau orang bangkit, mereka dapat menjadi pejuang yang tak kenal lelah.

Bagi tipe Idealis Pemimpi, hal-hal praktis tidak benar-benar penting. Mereka hanya menyibukkan diri dengan tuntutan-tuntutan harian yang duniawi saat benar-benar perlu. Mereka cenderung hidup sesuai dengan semboyan „yang jenius mengendalikan kekacauan“ – yang biasanya memang demikian sehingga biasanya mereka memiliki karir akademik yang gemilang. Mereka kurang tertarik dengan detail; mereka lebih suka melihat sesuatu secara keseluruhan. Ini artinya mereka masih memiliki pandangan menyeluruh yang baik ketika sesuatu mulai menjadi rumit. Namun demikian, sebagai akibatnya, sesekali dapat terjadi tipe Idealis Pemimpi melewatkan sesuatu yang penting. Karena mereka menyukai kedamaian, mereka cenderung tidak terang-terangan menunjukkan ketidakpuasan atau kejengkelan mereka melainkan memendamnya. Ketegasan bukan salah satu kekuatan mereka; mereka membenci konflik dan persaingan. Tipe Idealis Pemimpi lebih suka memotivasi orang lain dengan sifat ramah dan antusias mereka. Barangsiapa mendapatkan mereka sebagai atasan tidak akan pernah mengeluh kekurangan pujian.

Di tempat kerja, tipe Idealis Pemimpi adalah teman dan pasangan yang suka menolong dan setia, orang-orang yang memiliki integritas. Kewajiban sangat sakral bagi mereka. Perasaan orang lain penting bagi mereka dan mereka senang membuat orang lain bahagia. Mereka puas hanya dengan lingkaran kecil pertemanan; kebutuhan mereka akan kontak sosial tidak begitu menonjol karena mereka juga butuh banyak waktu untuk diri sendiri. Basa-basi kecil bukan keahlian mereka. Jika seseorang berharap berteman dengan mereka atau memiliki hubungan dengan mereka, orang itu harus mau berbagi dunia pemikiran mereka dan bersedia berpartisipasi dalam perbincangan mendalam. Jika Anda berhasil melakukan itu Anda akan dianugerahi dengan kemitraan yang luar biasa intensif dan kaya. Karena tuntutan-tuntutan mereka yang tinggi terhadap diri sendiri dan orang lain, tipe kepribadian ini kadang-kadang menjejali hubungan dengan gagasan-gagasan romantis dan idealis hingga tingkat tertentu sehingga membuat pasangan merasa terbebani atau minder. Tipe Idealis Pemimpi tidak jatuh cinta dengan mabuk kepayang namun ketika mereka jatuh cinta mereka menginginkannya menjadi cinta sejati yang tak berkesudahan.

Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini: introvert, teoritis, emosional, spontan, idealis, pemimpi, meletup-letup, menyenangkan, pendiam, ramah, berapi-api, setia, perfeksionis, suka menolong, kreatif, tenang, ingin tahu, keras kepala, memiliki integritas, bersedia berkorban, romantis, hati-hati, pemalu, menyukai kedamaian, mudah tersinggung, peka, komunikatif, imajinatif.
 (Niccolo Attar dalam sebuah renungan) 










Mahasiswa Yang Seakan Kehilangan Arah

Mahasiswa Sebagai Pencerah 
Idealnya, Mahasiswa harus berfungsi sebagai pencerah. Kaum terpelajar yang harus siap sedia memberikan pencerahan bagi masyarakat dan bagi yang tidak mendapatkan kesempatan seperti halnya ia. Sebagai mahasiswa, secara tidak langsung mempunyai komitmen untuk mencerahkan orang lain. Ibarat sebuah lampu pijar di malam hari. Meskipun nyalanya hanya 5watt, akan tetapi setidaknya lebih   baik dari pada sama sekali tidak, dan keadaan tetap gelap gulita.

Dia memiliki banyak kesempatan dan peluang  dalam mendapatkan pengetahuan. Baik secara akademis, ataupun pengetahuan umum lainnya. Selayaknya ia dapat mengambil manfaat sebaik mungkin guna mempersiapkan apa yang akan ia bagi kepada masyarakat nantinya, setelah menyelesaikan studinya. Kampus yang seolah dijadikan miniaturisasi sebuah negara pun, sepatutnya dapat menjadi sebuah pelatihan dan pembelajaran untuk masa depan. Ya, disaat kembali berad di tengah masyarakat nanti. Itulah ia mahasiswa ; "Mempunyai sedikit masa lalu, namun terbentang luas masa depannya." Kalaupun salah, ya wajar saja.

Aksi Mahasiswa Sudah Tidak Relevan
Gerakan Mahasiswa yang saat ini seolah kehilangan arah dan tujuannya, merangsang saya untuk menelitinya. Aksi Mahasiswa yang pada tahun 80-an seolah menjadi mortir bagi rezim otoriter Soeharto, kini berubah menjadi tontonan publik semata. Tak hanya masyarakat saja yang melontarkan kritik pedas, sekalipun dari kalangan para tokoh yang menjatuhkan vonis bahwa: "Aksi Mahasiswa turun ke jalan, saat ini sudah 'TIDAK RELEVAN'." Saya sebagai mahasiswa pun turut memikirkan hal itu, dan mencari letak ke relevansiannya terutama terhadap masyarakat. Saya sering turun ke jalan bersama mahasiswa lainnya (3 tahun belakangan ini). Melakukan orasi, teatrikal, dan aksi simpatik sekalipun. Namun, saya merasa ada yang beda jika dibandingkan dengan aksi mahasiswa di era Soeharto.

Mahasiswa VS Rezim Otoriter
Setelah saya cermati, ternyata zaman ini sudah berbeda kawan. Wajar saja, jika dahulu aksi mahasiswa menjadi sebuah tindakan yang elite dan terhormat bagi para mahasiswa. Karena apa? ;Karena pemerintahan Soeharto yang otoriter. Mahasiswa Indonesia bersatu padu dalam sebuah gerakan yang progresif, menggadaikan darah-darah mereka, hanya ingin membuktikan sebuah kebenaran. Kebenaran bahwa bangsa ini sudah tidak betul. Otoritarian telah membelenggu bangsa ini. Telah banyak diantara mereka yang diculik, hilang, bahkan mungkin dibrendel oleh Sang Rezim Otoriter . Sehingga, semakin hari masyarakat pun semakin tersadar bahwa mereka harus merapatkan barisan dan berjuang bersama-sama mahasiswa, demi menumbangkan rezim yang otoriter itu. Sampailah pada puncaknya pada tahun 1998. Reformasi telah terjadi. Dan rezim itupun tumbang!!!

Tidak salah lagi, jika saat itu aksi mahasiswa di penjuru jalanan Negeri ini selalu diiringi doa segenap rakyat Indonesia. Semakin banyak tumbangnya pahlawan di medan laga, derap langkah pun semakin menggetarkan bumi pertiwi Indonesia.

Mahasiswa VS Tanda Tanya (?)

Lain dulu, lain sekarang. Kentara sekali saya melihat sebuah perbedaan yang cukup mendasar dengan era saat ini. Mahasiswa yang saya minta; janganlah dipecah belah! ( karena sudah berkeping-keping adanya ). Mereka saling egois, dan hanya menuntut kepentingannya sendiri-sendiri. Misal; Mahasiswa Jogja melakukan aksi menuntut pencabutan UU BHP. Sementara Mahasiswa Bandung melakukan aksi menuntut agar anggaran pendidikan20% terealisasikan. Hal ini patut dipertanyakan, Ada apa dengan Mahasiswa??? Yang sudah tidak seia sekata, mempunyai arah tujuan yang berbeda alias sudah tidak kompak seperti dulu. Wajar saja jika cemoohan, kritikanlah yang didapat oleh Sang Penerus Bangsa ini. Bukan sanjungan sekalipun doa. Derap langkah mereka di jalan-jalan sudah semakin pelan dan tak berderap begitu keras. Hingga masyarakat pun seolah kahilangan sebuah kepercayaan terhadap langkah yang diambil para Mahasiswa. Bahkan, ada segelintir orang yang meyakini bahwa mahasiswa itu calon-calon pejabat korup juga nantinya. Bukan sebagai penyelamat bumi pertiwi.

Renungan Bersama


Apa yang menjadi masalah terbesar bangsa Indonesia saat ini (2009)???
Apa yang menjadi masalah bersama bangsa ini yang patut kita selesaikan???

Jika pertanyaan diatas sudah terselesaikan, logika masyarakat menghendaki hal itu. Bersiaplah segera kembali merapatkan barisan kalian wahai Mahasiswa Indonesia. Satu komando, satu tujuan !!! Komando, ada di tangan rakyat. Satu tujuan, Itulah yang harus kita cari saat ini !!!


Oleh: Ihsan Ahmad Barokah
Mahasiswa D3 Teknik Elektro UGM




22 September, 2009

Bandung Yang Kian Padat,,,

Kota Bandung yang merupakan salah satu kota bersejarah di Indonesia ini, sekarang semakin padat. Hampir setiap akhir pekan terjadi kemacetan yang cukup parah di jalan-jalan utama kota. Apa hal-hal yang menyebabkan semua ini???

Permasalahan
Kemacetan di kota Bandung akhir-akhir ini semakin menjadi saja. Bahkan bisa dibilang sudah menjadi tradisi. Penyebabnya antara lain, dibukanya jalan tol Cipularang sebagai akses orang Jakarta dan sekitarnya masuk ke kota Bandung, bertambahnya angka penggunaan bermotor, ruas jalan yang kecil, dan rambu-rambu yang tidak efektif. Hal-hal itu yang mengakibatkan semakin parahnya kemacetan di Bandung. Ya, saya sepakat dengan dampak sebuah era globalisasi. Akan tetapi, sampai saat ini kinerja pemerintah kota Bandung masih belum seimbang dengan kemajuan era global ini. Dari semakin mudahnya akses untuk mendapatkan kendaraan pribadi, dengan uang 500 ribu plus persyaratan saja sudah dapat satu motor. Mengenai cicilan bisa diatur tandasnya. Memang hal ini dirasa wajar bahkan sudah lumrah. Namun, yang menjadi masalah utama bukanlah perubahan-perubahan itu.

Solusi
Pemerintah daerah pastinya sudah tau dan sadar akan hal ini. Bahkan wakil-wakil rakyat di DPRD pun pasti tau juga. Mungkin karena mereka biasa menggunakan pengawalan dan sirine sehingga "Pejabat harus anti macet". Seolah mereka menutup mata akan hal ini. Kemacetan di Kota Bandung ini mungkin akan dapat di minimalisir dengan hal-hal berikut;

#Pembesaran ruas jalan dan Pembangunan jalur putar
Hal ini pasti sangat bermanfaat bagi kelancaran kendaraan di kota Bandung. Saya tidak menutup mata atas perbaikan-perbaikan dan pembangunan-pembangunan yang dilakukan. Buktinya dengan dibangunnya jembatan layang pasoepati, dapat mengurangi kemacetan yang terjadi. Hal itu pun sangat membantu masyarakat sebagai penikmat pembangunan kota. Mungkin, dengan menambah ruas jalan, membangun jalur putar di daerah yang biasanya padat dan memperlebar jalan yang sempit, terutama akses-akses dari kabupaten Bandung. Misalnya Buah Batu, Moh Toha, Cibaduyut, dan Kopo di selatan kota Bandung. Demikian juga pemkab Bandung yang harus mempunyai program yang sama guna mengoptimalkan terwujudnya hal itu. Mengurangi kemacetan tentunya,,,

#Perbaikan sistem Lampu dan Rambu Lalu Lintas
Hal ini tak kalah penting. Kalau saya perhatikan kota Bandung sangat lamban dalam hal mengikuti teknologi Lampu Lalu Lintas (Stopan). Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti halnya di Jogja, Solo, dan Surabaya hal ini sudah sangat dioptimalkan. Dengan ukuran lampu yang lebih besar dan lebih terang, dengan menggunakan energi alternatif, mempunyai banner angka detik, bahkan dengan menggunakan banner berjalan dan anjuran-anjuran untuk masyarakat dari sebuah speaker di sudut jalan. Hal ini membuat masyarakan begitu nyaman dengan fasilitas rambu-rambu yang cukup modern. Sehingga merasa malu untuk melanggar aturan-aturan itu. Kapan kota Bandung akan melakukan rehab pada rambu-rambu jalan beserta sistem Traffic Light nya??? Itu yang menjadi pertanyaan dalam benak saya.

#Pemasangan Iklan dan Layanan Masyarakat
Seperti halnya saya lihat di Kota Jogja, terdapat himbauan hampir di setiap traffic lightnya dengan bertuliskan "Terimakasih untuk kedisiplinan anda, berhenti sebelum batas marka demi keselamatan dan kelancaran jalan raya". Iklan yang dipasang dengan menggunakan banner yang dipasang pada sebuah papan di sudut traffic light ini tercipta berkat kerjasama pihak kepolisian dengan perusahaan-perusahaan atau pertokoan di Jogja. Mengapa hal ini juga dapat dijankan??? Apa karena mereka tidak tau? ataukah tidak mau tau? Padahal hal ini secara tidak langsung menuntun agar masyarakat disiplin terhadap rambu-rambu yang ada,,, Itupun demi kebaikan semuanya.

Mudah-mudahan hal ini dapat segera terwujud baik di Kota dan Kabupaten Bandung yang kita cintai ini.... Pokokna mah I |LOVE |BANDUNG lah,,,,


Ihsan Ahmad Barokah
Mahasiswa UGM, Putera Daerah Bandung

Pendidikan, Semakin hari semakin mahal saja !

Pendidikan di negeri ini bisa dikatakan, "semakin hari semakin mahal". Seharusnya pemerintah bisa mewujudkan APBN Pendidikan sebesar 20%. Dan itu tidak disatukan dengan biaya gaji guru. Sehingga, pendidikan akan dapat terakses oleh masyarakat kecil secara lebih luas.
 

Permasalahan
Biaya pendidikan. itu adalah permasalahan yang mendasar di negeri ini. Setelah Presiden SBY mengeluarkan iklan "pendidikan gratis 2009" nyatanya masih banyak sekolah-sekolah yang dengan serta merta memasang tarif yang cukup mahal untuk sebuah kursi bangku sekolah. Mau tidak mau masyarakat pun dipaksa untuk membelinya. Hal ini terlihat lebih dominan di sekolah-sekolah pavorit di masing-masing daerah. Seperti halnya di kota Bandung. Dengan begbagai alasan pihak sekolah memberikan penjelasan mengenai penggunaan biaya itu. Untuk membangun infrastruktur sekolah, untuk menyediakan ini itu, dan lain sebagainya. Padahal, nyata-nyata pemerintah pusat dengan diwakili oleh departemen pendidikan menyatakan bahwa sekolah gratis. Mengapa masyarakat hanya tinggal diam saja melihat hal ini. Daripada mengadukannya lebih baik menjual harta benda mereka dan secara tidak langsung mendukung jalannya tipu muslihat itu. Mungkin inilah wajah masyarakat Indonesia yang sudah tidak lagi menggunakan rasio kebenaran akan sebuah kebijakan. Mereka seolah tidak mau tau peraturan perundangan yang menjaminnya. Yang mereka tau hanyalah bagaimana cara agar anak mereka dapat duduk di bangku sekolah itu, berapapun mereka bayar. Ini menjadi sebuah fenomena pendidikan. Masih mending mereka yang punya banyak uang, sementara dengan keluarga yang pas-pas an?? Mereka kehabisan kursi pendidikan, mau tidak mau mereka mengikuti tren yang ada. Meminjam uang, menjual harta benda, tanah dsb. Sebetulnya, bukan karena mereka mampu, akan tetapi karena terpaksa saja.

Solusi
Menurut saya, solusi yang lebih baik adalah bukan dengan cara mengikuti kemauan pihak sekolah. Akan tetapi, disaat anak-anak mereka memang layak masuk ke sekolah itu, baik dari segi nilai dan persyaratan lainnya, jika kemudian diharuskan membayar biaya yang cukup besar dan tak mampu untuk membayarnya, langkah pertama adalah mempertanyakan mengenai kebijakan itu. Ini dimaksudkan agar kita selaku orang tua tau, kemana saja pendistribusian dari biaya yang mereka bayar itu. Kemudian meminta keringanan kepada pihak sekolah, entah meminta agar dapat dicicil ataupun mendapatkan potongan. Jika pihak sekolah meminta prasyarat yang harus dilampirkan, maka secepatnya hal itu segera dipenuhi. Langkah selanjutnya adalah mengikuti aturan yang telah disepakati bersama. Dengan begitu, masyarakat yang kurang mampu dapat terbantu dan teringankan oleh biaya pendidikan tersebut. Kalaulah pihak sekolah tidak mempunyai sama sekali toleransi, maka kita dapat mengadukannya kepada pihak departemen pendidikan atau dinas pendidikan setempat. Setidaknya, kalaupun tidak gratis, ya murah. Kalaupun tidak bisa murah, ya dicicil. Mudah-mudahan hal ini dapat menjadi masukan dan pembelajaran bagi kita semua.

Ihsan Ahmad Barokah
Mahasiswa UGM Yogyakarta

TV Kabel di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Penggabungan metode perkuliahan seperti teori, metodologi, dan praktik dalam segala aktivitas pembelajaran yang menyeluruh, baik di kelas maupun luar kelas, akan meningkatkan kompetensi mahasiswa.

"Sehubungan dengan hal itu, dalam rangka meningkatkan kompetensi mahasiswa ilmu komunikasi, Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) meluncurkan Ikomtv," kata General Manager Ikomtv, Fajar Junaedi MSi, di Yogyakarta, Sabtu (19/9).

Ia mengatakan Ikomtv menggunakan format tv kabel yang disiarkan di lingkungan kampus UMY dengan target khalayak sasarannya adalah mahasiswa dan masyarakat yang tinggal di sekitar kampus UMY.

Acara yang disiarkan berisi kegiatan di UMY dan berbagai film, iklan, talk show karya mahasiswa dan dosen ilmu komunikasi UMY. "Sebagai media komunitas, Ikomtv nantinya juga dapat digunakan untuk menyemarakkan Muktamar Muhammadiyah pada 2010," kata Junaedi yang juga dosen Departemen Ilmu Komunikasi UMY.

Menurut dia, Ikomtv merupakan sarana praktikum mahasiswa terutama mahasiswa Program Studi Broadcasting Ilmu Komunikasi UMY dan sebagai bentuk media latihan bagi mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja, sehingga mahasiswa diharapkan sudah memiliki kemampuan yang memadai di bidang penyiaran.

"Selain Ikomtv untuk peningkatan kompetensi mahasiswa, ilmu komunikasi UMY juga mengeluarkan Advikom. Advikom merupakan laboratorium nyata dari sebuah biro iklan dengan struktur dan kegiatan seperti biro iklan sesungguhnya," katanya.

Dengan demikian, mahasiswa periklanan Ilmu Komunikasi UMY memiliki kompetensi tinggi di bidang periklanan, karena sudah pernah beraktivitas dalam sebuah laboratorium biro iklan.

"Kegiatan Ikomtv dan Advikom diorganisasi oleh Ikom Enterprise, yang secara rutin akan mengadakan kegiatan seperti pelatihan untuk kru Ikomtv, Ikom radio, Ikom Digimagz, dan Advikom yang terdiri atas mahasiswa ilmu komunikasi," katanya.

Selain itu, juga diagendakan untuk mengikuti berbagai kompetisi dan festival di bidang komunikasi, sehingga kompetensinya semakin meningkat.

Ia mengatakan Ikom Enterprise mengorganisasi kegiatan mahasiswa yang diarahkan pada pembentukan karakter profesional, sehingga saat masih kuliah mahasiswa sudah memiliki perilaku profesional.

"Ketika mahasiswa telah lulus atau menyelesaikan kuliah, mereka akan memiliki kemampuan yang kompetitif, dan dapat bersaing dalam dunia global," katanya.

AS Memberikan Selamat Atas Tewasnya Teroris Asal Malaysia itu


WASHINGTON, TRIBUN - Keberhasilan Polri yang akhirnya melalui penggerebekan dapat melumpuhkan tersangka teroris warga Malaysia paling dicari, Noordin M. Top, mendapat pujian dari Pemerintah Amerika Serikat.

Menurut keterangan Deplu AS, Kamis, dalam jumpa pers yang berlangsung di Washington, DC, juru bicara Deplu AS Philip J. Crowley mengatakan penggerebekan yang dilakukan kepolisian Indonesia itu merupakan kemajuan penting. "Tentu saja, ini menunjukkan kemajuan penting yang dicapai Indonesia dalam memerangi kalangan politik garis keras," kata Crowley ketika menjawab pertanyaan.

Sebelumnya wartawan meminta komentar Crowley atas tewasnya "tersangka teroris paling dicari oleh kepolisian Indonesia"; apakah AS terlibat dalam pencarian tersangka serta apakah AS akan terlibat jika ada tindak lanjut dari hasil penggerebekan tersebut.

Baik wartawan yang bersangkutan maupun Crowley tidak menyebut-nyebut nama tersangka teroris yang dimaksud sebagai Noordin M. Top, yang oleh Polri telah dinyatakan tewas dalam penggerebekan di Solo, Jawa Tengah, pada Kamis waktu setempat.

Namun sejak Kamis dinihari, nama Noordin M. Top telah kerap disebut dan diberitakan oleh banyak media AS sebagai tersangka teroris paling dicari oleh Indonesia yang pada Kamis tewas di tangan Polri dalam penggerebekan di Solo.

Saat menjawab pertanyaan, Crowley hanya menyebutkan bahwa Polri telah melakukan penggrebekan pada hari Kamis terhadap sebuah rumah di Solo , Jawa Tengah yang ditinggali seorang tersangka teroris. "Mengenai keterangan rincinya, kami akan mengacu kepada Pemerintah Indonesia," kata Crowley.

"Kami tidak ambil bagian dalam operasi-operasi tersebut (penggerebekan, red), juga tidak memberikan informasi yang mengarah terhadap dilakukannya penggerebekan," tambahnya.(kcm)

Lebaran Prihatin di Pengungsian Korban Gempa


Minggu, 20 September 2009 | 16:05 WIB


BANDUNG, TRIBUN — Pengungsi korban gempa yang menempati areal pengungsian di Desa Sukamanah, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat, Minggu (20/9), merayakan Idulfitri secara sederhana.

Tak ada menu istimewa yang sengaja mereka siapkan seperti opor ayam atau sambal goreng sebagai santapan seusai menjalankan salat Id. Yang ada hanyalah sayur kentang yang dihidangkan ala kadarnya.

"Enggak punya uang untuk bikin opor ayam. Ibu hanya masak sayur kentang. Semua serba susah, apalagi harga-harga naik kalau Lebaran," ujar Nia, seorang pengungsi di Desa Sukamanah, Pangalengan, Bandung.

Hal serupa juga dialami oleh keluarga Arianto dan Mak Iros. Tidak ada hidangan opor ayam seperti Idul Fitri pada tahun sebelumnya. Bahkan, Mak Iros mengaku hanya menyajikan menu tumis cabai di Idul Fitri kali ini.

Beruntung seusai salat Id, yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, pengungsi menerima nasi kotak berisi opor dengan sepotong daging ayam. Nasi kotak ini boleh jadi berkah saat merayakan Idul Fitri.

Meski dalam kondisi serba prihatin, tradisi silaturahim di antara pengungsi tetap tampak di sini. Seusai salat Id mereka saling mengunjungi tenda kerabat dan tetangga. Suasana haru terpancar dari mata mereka. Tetes air mata tak jarang keluar saat saling memeluk mengucapkan maaf.

Seperti yang dirasakan Bu Totok, janda enam orang anak. Tangis harus pecah saat ia memeluk Aih, anak pertamanya. Ia mengaku sedih tak hanya kehilangan rumah dan harta bendanya, tetapi harus tinggal di pengungsian tanpa suaminya.(Kompas.com)

ICW tolak Perpu KPK


Selasa, 22 September 2009 | 22:26 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - The Indonesia Corruption Watch (ICW) menolak dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) perubahan atas UU No 30 Tahun 2002 tentang KPK oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (23/9).

"Kami jelas menolak," ujar peneliti ICW Febri Diansyah, di Jakarta, Selasa. Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi mengatakan, saat ini, Presiden sedang mempertimbangkan berbagai masukan guna memilih tiga nama yang dapat diterima oleh publik secara luas.

Febri mengatakan, Perppu ini dapat menghancurkan independensi KPK, karena pemimpin KPK bukanlah menteri atau pembantu presiden yang dapat ditunjuk. Kepala Negara tidak berwenang untuk mencampuri dan secara langsung menunjuk lembaga independen ini.

"Kita harus ingat bahwa KPK tidak berada di bawah lembaga eksekutif atau legislatif. Harus lewat seleksi dalam hal ini," katanya.

Kalaupun Perppu ini betul-betul dibutuhkan, katanya, seharusnya dibuat hanya untuk mempercepat proses seleksi dan bukannya untuk menunjuk nama seseorang untuk memimpin.

Febri meminta agar presiden tidak terjebak pada otoritarianisme baru. "Seleksi harus belangsung terbuka dan pendapat publik juga harus didengar," jelasnya. Proses ini jangan sampai terbajak pada absolutisme, katanya. "Yang juga penting adalah membuktikan bahwa KPK tidak tampak lemah," he said.

Meski hanya dua wakil pimpinan yang masih ada di KPK dan mereka hanya berwenang dalam hal mencegah tindak korupsi, tidak berarti bahwa mereka tidak mempunyai kewenangan untuk menuntut atau mendakwa serta melakukan investigasi. "Undang-undang tentang KPK jelas menyebutkan hal itu,"tegas Febri.

Sementara itu, anggota DPR RI Nursyahbani Katjasungkana mengatakan bahwa keputusan untuk membuat Perppu dianggap sebagai hal yang prematur dan melawan prinsip-prinsip praduga tak bersalah.

"Dua pejabat KPK masih bisa bekerja seperti biasanya, tidak seperti Antasari Azhar yang telah menjadi terdakwa."

Febri mengatakan, dikeluarkannya Perppu dapat menghancurkan KPK secara politis dan psikologis.

Kalaupun Perppu tetap akan dijalankan, nama-nama tersebut memiliki riwayat yang bersih, kredibel dan benar-benar kompeten. "Saya sih mengajukan wanita," katanya.

Pentingnya Komunikasi dalam Membangun Motivasi Siswa


KEGAGALAN dalam sebuah pembelajaran sebenarnya tidak hanya akibat perencanaannya yang buruk, tapi bisa saja karena pelaksanaannya yang menyimpang. Tidak adanya sarana pendukung yang sesuai pokok bahasan yang sedang dilaksanakan, sementara kompetensi dasar materi ajar tersebut harus disampaikan kepada siswa, membuat guru harus menyampaikan pembelajaran itu dengan segala kekurangannya. Akibatnya, hasilnya jauh dari yang diharapkan.


Sebenarnya, ada hal yang kurang dimaksimalkan oleh guru, yaitu komunikasi. Guru dan murid kurang berkomunikasi. Komunikasi sangat penting karena dalam komunikasi itu ada kesamaan pandangan (konsep) antara siswa dan guru. Selama ini yang terjadi adalah aksi yang sepihak sementara pihak lain lain tidak terlihat keberadaannya. Apa penyebab dari kegagalan aksi aksi tersebut?

Pertama, pemahaman dari komunikasi itu sendiri masih kurang dimiliki oleh siswa dan guru. Guru misalnya masih berpikir sempit, hanya mengartikan komunikasi adalah interaksi dua arah dari si pembicara dan si pendengar (siswa) yang bersifat lisan. Siswa yang banyak bertanya kepada guru dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) berarti telah berkomunikasi dengan baik tanpa adanya tindak lanjut yang jelas untuk memecahkan masalah yang dimunculkan.

Komunikasi yang sebenarnya adalah adanya komunikasi yang luas selain aksi lisan tersebut. Komunikasi bisa tulisan, gerak, dan perilaku, di mana kesemuanya itu memiliki makna yang ada korelasinya dengan konsep yang sedang digarap sehingga diharapkan ada pemahaman baru yang akan lebih bijaksana dalam menyikapi aksi aksi yang terjadi di kelas.

Kedua, di dalam berkomunikasi dengan siswa, guru harus lebih mengerti bahwa yang menjadi subjek dalam KBM adalah siswa itu sendiri. Siswa tidak boleh dijadikan objek oleh guru. Jika siswa yang jadi objek, maka akan ada norma norma yang masuk ke dalam situasi itu. Guru pun jadi lebih arogan dan memaksakan diri untuk menjejali konsep konsepnya ke dalam kerangka berpikir siswa yang mungkin kerangka berpikirnya lebih sempit dibanding guru.

Lalu, bagaimana komunikasi yang baik dalam proses belajar mengajar? Pertama, lakukan komunikasi yang sesuai dengan sistem dan kondisi saat itu, di mana guru dan siswa harus fokus kepada tema yang sedang dipelajari. Guru dan siswa tidak boleh terlalu luas masalahnya. Yang penting, proses dan cara caranya sudah benar serta tak melenceng dari tujuan pembelajaran itu .

Kedua, komunikasi yang membangkitkan kesadaran siswa. Bahwa sebenarnya dirinyalah yang sangat membutuhkan proses belajar ini.

Ketiga, komunikasi yang rutin. Ini harus dilakukan dari awal sampai akhir pembelajaran. Komunikasi rutin secara otomatis memberikan sugesti kepada diri kita untuk selalu melakukan apa yang harus dilakukan.

Seorang guru sebenarnya sudah dapat merasakan apakah sudah berkomunikasi dengan baik atau belum. Misalnya ketika ia mengajar terutama dalam menggunakan metode ceramah, guru bisa melihat apakah semua pendapat siswa itu tertuju kepada guru atau tidak. Untuk memastikannya, guru bisa bertanya kepada siswa yang duduk paling jauh, apakah ia bisa menjawab dengan baik atau tidak. Cara paling mudah adalah guru sengaja memberikan konsep yang salah, apakah ada reaksi dari siswa atau tidak.

Contoh dalam pembelajaran matematika guru menuliskan atau mengucapkan bahan 9 x 8 itu 71. Siswa yang memperhatikan dengan sungguh sunggguh secara spontan akan berani menyatakan bahwa pernyataan guru itu salah.

Jadi, kemampuan guru dalam berkomunikasi sangat diperlukan di dalam pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Komunikasi dengan intonasi yang dapat dimengerti siswa, intonasi yang sopan, memiliki nilai nilai dan norma norma, apalagi jika disisipi oleh nilai nilai agamis, akan sangat menyejukkan bagi kehidupan dunia akhirat.

Perlu diingat, berkomunikasi juga harus bisa membangun motivasi bagi siswa untuk selalu giat dalam menyelesaikan tugas tugas belajar. Apa arti sebuah angka nilai jika siswa tersebut tidak memiliki kemampuan yang diharapkan. Komunikasi sangat penting dalam membentuk konsepsi diri siswa dan akan membawa siswa ke arah perubahan sikap seperti tujuan pembelajaran yang direncanakan sebelumnya. (*)

SUKANDA, Guru SDN 3 Cangkuang Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon

Gempa Jogja 2006 Meninggalkan Pilu,,,


Telah satu bulan lebih sejak Sabtu, 27 Mei 2006, gempa mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah. Namun, pekerjaan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut belum terhapus oleh jarak waktu tersebut. Masih banyak PR menumpuk di setiap diri kita untuk membantu sesama. Tak tergantikan memang, semua yang telah terenggut dari tangan mereka tak mungkin kembali.


Dari mulai kehilangan fisik seperti rumah, sekolah, kantor-kantor, pemerintahan maupun swasta dari sampai kehilangan nyawa, semuanya masih ada dalam ingatan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Maha Besar Kuasa Allah, beruntunglah orang-orang yang dapat memetik hikmah dari semua kejadian ini, sebab hikmah adalah harta seorang muslim yang tercecer. Begitulah, mungkin ini adalah sedikit dari gambaran hari yang dijanjikan, yakni hari kiamat yang sesungguhnya nanti akan terjadi. Dimana seorang ibu lupa pada anak lelakinya, dimana betis kiri bertaut dengan betis kanan, Alhamdulillah, Engkau masih perkenankan kami untuk merapat lebih dekat kepada-Mu ya Rabb.

Sampai dengan saat ini masih banyak saudara-saudara kita yang tinggal di tenda-tenda yang panas pada siang hari dan dingin pada malam hari. MasyaAllah. Ada sekitar 779.287 jiwa yang masih tidur di tenda-tenda. Untuk wilayah Bantul ini korban yang meninggal dunia sebanyak 4.143 jiwa.

Dari sekian ribu korban jiwa tersebut, terdapat seorang anak yang terpisah untuk selamanya dengan ibunya atau ayahnya, orang tua dengan anaknya, guru dengan murid, serta teman sepermainannya. Kuatkan mereka ya Allah, jangan engkau lemahkan hati mereka, kuatkan iman mereka, saudaraku jangan engkau gadaikan aqidahmu disini. Sebuah kabar terbaru yang ada di Jogja saat ini adalah kondisi korban luka akibat gempa yang menjadi korban jiwa untuk yang kesekian kalinya disebabkan kebersihan luka yang tidak terjaga. Tetanus, itulah namanya. Seperti diberitakan oleh Surat Kabar Kedaulatan Rakyat, tanggal 6 Juli 2006, seorang pasien yang berumur 70 tahun meninggal dunia akibat tetanus setelah sebelumnya selama 2 hari dirawat di RS Ludira Husada Tama. Kondisi luka bekas operasi berdasarkan berita tersebut kotor dan banyak pasir serta kerikilnya.

Berdasarkan data yang berhasil kami himpun dari berbagai sumber seperti tim P2B, Media Center serta dari SKH Kedaulatan Rakyat menyebutkan bahwa sampai saat ini pendataan telah selesai dilakukan untuk wilayah Kabupaten Bantul, diperoleh hasil bahwa untuk wilayah Bantul sebanyak 71.763 unit rumah roboh, 71.372 unit rumah rusak berat/sedang, serta 73.669 unit rumah rusak ringan. Data tersebut untuk wilayah Bantul saja, sedangkan untuk wilayah DIY secara keseluruhan dapat dilihat dari tabel di atas. Parameter yang digunakan untuk menggolongkan rumah dengan kategori Rusak Berat/Roboh adalah rumah yang tidak bisa difungsikan kembali karena struktur utamanya sudah tidak utuh. Rumah dengan kategori kerusakan sedang adalah rumah yang mengalami kerusakan tidak di struktur utama, tapi temboknya ada yang roboh. Rumah dengan kategori kerusakan ringan asalah rumah yang rangkanya masih utuh tapi temboknya retak-retak.

Selain kondisi rumah, gempa juga menimbulkan kerusakan pada sarana/prasarana public seperti Sekolah Dasar (SD/MI) sebanyak 311 unit, SMP/Mts sebanyak 39 unit, SMA sebanyak 7 unit, SMK sebanyak 15 unit. Sarana kesehatan masyarakat seperti Puskesmas serta Puskesmas Pembantu juga tak luput dari serangan gempa, sebanyak 15 unit Puskesmas rusak dan 34 unit Puskesmas Pembantu tersebar dalam 17 wilayah kecamatan di Bantul. Seperti di Kecamatan Piyungan, Pleret, serta Pundong Puskesmas setempat juga ambruk terkena gempa, yang merupakan sarana kesehatan publik milik pemerintah yang terkena imbas gempa.

Posko Portalinfaq Yogyakarta yang berlokasi di Dongkelan, Bantul juga menerima banyak laporan dari masyarakat yang kebanyakan adalah berupa permohonan bantuan logistik, obat-obatan, bantuan permodalan, hingga pendampingan anak-anak. Sampai dengan saat ini, 7 Juli 2006, laporan yang masuk ke posko berjumlah 39. Bantuan dan dukungan dari para donatur akan sangat membantu untuk menghadapi fase Recovery dan Rehabilitasi kedepan yang justru lebih banyak membutuhkan pendanaan.

Yogyakarta, 7 Juli 2006

Posko Portalinfaq Yogya : (0274) 450576


Presiden Setujui Kriminalisasi Kewenangan KPK Jika Terbitkan Perppu

Rencana penunjukkan Plt pimpinan KPK juga bisa dipandang sebagai isyarat Presiden kepada kepolisian untuk mempercepat penyidikan terhadap Chandra M Hamzah dan Bibit S. Rianto.

“Harus diralat mas. Tidak ada penunjukkan langsung Pelaksana tugas pimpinan KPK dalam draf Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang yang kami siapkan. Perppu itu seperti Undang-undang yang mengatur umum, jadi tidak akan menunjuk seseorang,” ujar Direktur Perancangan Perundang-undangan Depkumham Suharyono, kepada hukumonline melalui telepon Selasa (22/9).

Saat ini wacana pembuatan Perppu untuk mengisi ‘kekosongan’ pimpinan KPK memang santer beredar di media massa. Bahkan sudah ada menyebutkan Presiden SBY sudah meneken Perppu untuk menunjuk pelaksana tugas (Plt) pimpinan KPK. Namun Suharyono buru-buru menepisnya.


Sebagai orang yang merumuskan draf Perppu itu, Suharyono menjelaskan hanya ada satu pasal dalam draf itu. “Pasal dalam draf Perppu itu akan membahas mengenai perubahan Pasal 33 UU No 30 Tahun 2002 tentang KPK,” kata Suhariyono. Namun ia mengaku lupa bagaimana detil rumusan pasal draf Perppu itu. “Saya lagi nggak megang drafnya. Kalau tidak salah yang mau diubah soal pansel (panitia seleksi) mas.”


Pasal 33 UU KPK yang terdiri dari dua ayat itu sendiri merumuskan tentang kewenangan presiden untuk mengajukan calon anggota pengganti kepada DPR dalam hal terjadi kekosongan pimpinan KPK. Prosedur pengajuan calon penggantinya pun harus merujuk pada Pasal 29, Pasal 30 dan pasal 31.


Sekedar informasi, Pasal 29 UU KPK mengatur tentang syarat-syarat pimpinan KPK. Sementara Pasal 30 merinci tentang tahapan seleksi pimpinan KPK yang diawali oleh Panitia Seleksi sampai proses uji kepatutan dan kelayakan di DPR. Sedangkan Pasal 31 menegaskan transparansi proses rekrutmen calon pimpinan KPK.


Setujui kriminalisasi

Pakar hukum tata negara Universitas Andalas, Saldi Isra menyayangkan sikap presiden yang terkesan sangat ngotot mengeluarkan Perppu untuk menunjuk Plt pimpinan KPK. “Penerbitan Perppu itu sama sekali tak berdasar,” kata Saldi, Selasa (22/9).


Menurut Saldi, tak ada kekosongan pimpinan di KPK saat ini meskipun tiga pimpinan lainnya sudah non aktif karena ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan Saldi menilai pembentukkan Perppu itu dapat ditafsirkan sebagai ‘restu’ presiden kepada kepolisian agar segera mempercepat proses penyidikan terhadap Chandra M Hamzah dan Bibit S Rianto untuk secepatnya ditetapkan menjadi terdakwa. “Semakin jelas terlihat ada skenario besar dalam melemahkan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.”


Lebih lanjut Saldi berani menyatakan tindakan presiden adalah sebuah pelanggaran hukum jika benar-benar menunjuk Plt pimpinan KPK. Sebab, sebagai salah satu lembaga independen, proses pengisian pimpinan kelembagaan KPK tak bisa dilakukan secara sepihak oleh Presiden. Makanya dalam rumusan UU KPK disebutkan secara tegas bahwa proses pengisian pimpinan lembaga itu juga harus melibatkan peran DPR.


Sekedar mengingatkan, keberadaan KPK tak jauh berbeda dengan Komnas HAM, Komisi Yudisial atau Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Sebagai lembaga independen, proses pengisian jabatan pimpinan di semua lembaga itu melewati beberapa tahapan. Mulai dari seleksi oleh Pansel yang dibentuk pemerintah sampai proses fit&proper test oleh DPR.


Saldi mengaku khawatir jika presiden benar-benar merealisasikan niatnya menunjuk Plt pimpinan ini melalui Perppu. “Akan menjadi preseden buruk kedepannya. Nanti kalau di kemudian hari presiden merasa terganggu dengan kinerja lembaga independennya, dia bisa dengan seenak hati mengeluarkan Perppu dan kemudian mengganti pimpinannya dengan orangnya dia.”


Harus Ditolak

Tak hanya Saldi yang khawatir dengan rencana penerbitan Perppu itu. Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) dan Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi Peradilan (LeIP) juga melayangkan sikap serupa. “Sikap Presiden yang ditunjukkan melalui penerbitan Perppu ini adalah posisi yang dianggap menyetujui upaya kriminalisasi terhadap kewenangan KPK serta merupakan bagian dari rangkaian usaha pelemahan gerakan antikorupsi di Indonesia,” demikian PSHK dan LeIP dalam rilisnya yang diterima hukumonline.


Apa jadinya jika presiden keukeuh menerbitkan Perppu? Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menggantungkan harapan kepada DPR. Hal ini karena Pasal 25 Ayat (3) UU No 10 Tahun 2004 tentang Pembentukkan Peraturan Perundang-undangan menjelaskan bahwa DPR dapat menolak Perppu untuk menjadi undang-undang.


Namun dengan konstelasi kursi di DPR ke depan, Saldi tak yakin DPR berani menolak Perppu ini. “Artinya kita tidak bisa berharap banyak pada DPR. Satu-satunya cara adalah menolak dan mendesak supaya presiden tak menerbitkan Perppu yang sesat ini.”


Bagaimana dengan kemungkinan mengajukan judicial review Perppu ke MK? “Secara substansi Perppu memang sama dengan Undang-Undang yang bisa di-judicial review. Tapi secara formil masih harus dikaji terlebih dulu,” pungkasnya.

(IHW)

Muhammad Yamin, Pelopor Hak Asasi Manusia di Awal Republik

Kalau hak rakyat tidak terang dalam hukum dasar (konsitusi,-red) berarti telah terjadi 'grondwettelijke fout', kesalahan Undang-Undang Hukum Dasar. Itu besar sekali dosanya buat rakyat.


Jalan Muhammad Yamin berada tepat berada di sebelah Gedung Kedutaan Besar (Kedubes) Inggris di kawasan elit Menteng, Jakarta Selatan. Yamin adalah salah seorang tokoh hukum yang namanya diabadikan menjadi nama jalan penting di banyak kota di Indonesia.


Mungkin penabalan nama Yakim sebagai nama jalan bukan kebetulan. Ia adalah pahlawan nasional yang kiprahnya pada masa awal kemerdekaan diakui. Berkat catatan-catatan Yamin pula kita bisa mengetahui perdebatan yang terjadi pada masa meletakkan dasar-dasar konstitusional negara Indonesia.


Tetapi Yamin juga menimbulkan kontroversi. Si empunya nama jalan memang sempat dituduh berpaham 'kebarat-baratan' di awal pembentukan Republik Indonesia. Pria kelahiran Sawahlunto, Sumatera Barat, pada 23 Agustus 1903 ini dinilai memiliki pandangan individualisme oleh rekan-rekannya.


Masih terekam dalam catatan sejarah bagaimana pria yang sempat berprofesi sebagai advokat ini harus berdebat hebat dengan Soekarno dan Soepomo dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Kala itu, Yamin keukeuh agar deklarasi hak asasi manusia diatur dalam konstitusi. Sedangkan, Soepomo bertahan pada negara Indonesia harus mengedepankan paham kekeluargaan, bukan HAM yang merupakan paham individualisme yang diimpor dari barat.


“Jangan menyandarkan negara kita pada aliran perseorangan, akan tetapi pada aliran kekeluargaan. Oleha karena menurut pikirsan saya aliran kekeluargaan sesuai dengan sifat ketimuran. Jadi saya anggap tidak perlu mengadakan declaration of rights,” ujar Soepomo sebagamana tercatat dalam Buku Risalah BPUPKI dan PPKI terbitan Sekretaris Negara.


Yamin merasa perlu sekali lagi mengulang penjelasannya. “Saya minta perhatian betul-betul, karena yang kita bicarakan ini hak rakyat,” ujarnya. Ia melanjutkan, bila hak rakyat itu tidak terang dalam konstitusi maka telah terjadi kekhilafan. “Grondwettelijke fout.” Artinya, kesalahan undang-undang hukum dasar. “Itu besar sekali dosanya buat rakyat,” tuturnya.


Apalagi, lanjut Yamin, rakyat Indonesia telah lama-lama menantikan haknya dari republik yang mereka bela selama ini. Jaminan hak asasi pun tidak untuk warga negara an sich. “Seluruh penduduk akan diperlindungi oleh diperlindungi oleh republik ini,” tegas pria yang sempat mengenyam Sekolah Kedokteran Hewan ini. Artinya, berdasarkan konsep Yamin, semua penduduk baik warga negara indonesia maupun warga negara asing memiliki hak konstitusional.


Pandangan-pandangan Yamin memang menarik untuk diteliti. Salah satunya bagi Syafriadi Asri. Ketika hendak menyelesaikan kuliah pascasarjana Ilmu Hukum di UI, Syafriadi menulis tesis mengenai Yamin. Menurut Syahriadi, ada perbedaan pandangan yang tajam antara Yamin dengan Soepomo. Kala itu, founding fathers terpecah dua kubu dalam menyikapi jaminan hak asasi manusia dalam konstitusi. Yakni, kubu Yamin-Hatta versus Soepomo-Soekarno. “Cuma Yamin lebih kencang menyuarakan HAM ke dalam konstitusi dibanding Hatta,” ujarnya.


Menurut Syafriadi, latar belakang kultural yang menyebabkan tajamnya pandangan Yamin dengan Soepomo. Yamin lahir dari lingkungan Minangkabau yang egaliter sedangkan Soepomo lahir dari masyarakat Jawa yang bercorak feodalistik. “Itu alasan mengapa pemikiran mereka berbeda,” duga Syafriadi.


Dari sudut latar belakang pendidikan posisi keduanya memang terbalik. Soepomo pernah mengenyam pendidikan di Belanda, sedangkan Yamin merupakan sarjana hukum asli produk dalam negeri. Yamin merupakan angkatan pertama Sekolah Tinggi Hukum Hindia Belanda. Ia memperoleh gelar Meester in de Rechten pada 1927.


Naluri pembelaan HAM Yamin tak hanya berhenti ketika pembentukan dasar negara di awal republik. Restu Gunawan dalam buku bertajuk 'Muhammad Yamin dan Cita-Cita Persatuan' menggambarkan kiprah Yamin sebagai Menteri Kehakiman pada periode 1951-1952.

Kala itu, Yamin diwarisi untuk mengurus 17 ribu tahanan dari kabinet sebelumnya. Kebanyakan dari tahanan itu ditahan tanpa proses persidangan sejak 1949 karena dicap komunis atau sosialis. Kala itu, Yamin membebaskan 950 tapol yang ditahan tanpa proses penuntutan.


Advokat Senior, Adnan Buyung Nasution adalah salah satu saksi keberanian Yamin itu. “Yang pertama dia lakukan ketikan menjadi Menkeh adalah membebaskan semua tahanan politik. Dia anti subversif karena orang-orang ditangkap tanpa ada alasan yang jelas,” ungkap Buyung kepada hukumonline.

Yamin lalu diserang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) gara-gara kebijakannya ini. Satu kalimat tegas milik Yamin yang masih terngiang di kuping Buyung. “Saya tanggung jawab”. Akhirnya, tanpa grasi atau remisi, Yamin membebaskan orang-orang yang tidak bersalah itu.


Juris-Sejarawan-Sastrawan

Yamin memang terkenal sebagai juris atau ahli hukum yang mumpuni di eranya. Ia juga cukup aktif menelurkan pemikirannya dalam bentuk buku. Prof. Jimly Asshiddiqie bahkan menyebut Yamin sebagai salah seorang sarjana hukum yang sangat banyak menulis buku. Salah satu karyanya yang terkenal adalah “Sapta Parwa Tata Negara Majapahit'. Buku itu merupakan bukti bahwa Yamin memang salah seorang pakar hukum tata negara yang pernah dimiliki negara ini.


Tak hanya itu, Yamin juga berkarya bak seorang sejarawan dengan menulis biografi Gajah Mada. Niatnya untuk melindungi teks sejarah juga patut diacungi jempol. Risalah rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pun terselamatkan setelah Yamin membukukannya.


Nilai sejarah buku tersebut tak sembarangan. Pasalnya, dari buku itulah terlihat original intent dari teks UUD 1945. Buku itu bahkan kerap menjadi rujukan pemerhati hukum tata negara selama bertahun-tahun. Memang buku serupa banyak ditemukan, namun karya Yamin dinilai lebih orisinil karena ia terlibat langsung dalam pembahasan UUD 1945 itu.


Selain sebagai sejarawan, Yamin yang mendapat gelar kepahlawanan pada 6 November 1973 ini juga sangat mencintai sastra. Berpuluh atau bahkan beratus sajak sudah ditelurkannya. Bahkan ketika sidang pembasahan dasar negara di BPUPKI pun, ia masih sempat melantunkan sajak di akhir pemaparannya. Sajak yang menggambarkan kecintaannya pada ibu pertiwi.


Hati yang mukmin selalu meminta

Kepada Tuhan Yang Maha Esa,

Supaya Negara Republik Indonesia;

Kuat dan kokoh selama-lamanya

Melindungi rakyat, makmur selamat,

Hidup bersatu di laut- di darat”


Semoga...